Thursday, December 5, 2019

Software Codemi, Zaki Falimbany Mengembangannya Menjadi LMS Berbasis SaaS


Ketatnya persaingan tak menyiutkan nyali Zaki Falimbany untuk mengembangkan bisnis penyedia jasa learning management system (LMS). Sejak 2014 lalu, Zaki mulai merintis bisnis software pembelajaran yang diberi nama Codemi, dijalankan dengan sistim cloud. Ternyata optimismenya tak bertepuk sebelah tangan. Pengguna sofware berbasis SaaS ini terus bertumbuh cepat dan kini sudah mencapai lebih dari 2 juta user. Sederet perusahaan besar berhasil digaet menjadi pelanggan PT Codemi Global yang dibangun Zaki yang kini memperkerjakan 30-an karyawan ini.


Zaki yang kelahiran Palembang, 22 Januari 1986 ini memang punya latarbelakang pendidikan bidang TI. Ia sempat merasakan kuliah di Jurusan Teknik Informatika AMIKOM Yogyakarta, namun tidak sampai lulus. Pada semester-semester akhir, tugas skripsinya terbengkalai karena ia sudah coba-coba berbisnis. Ia sempat kerja part time, juga pernah juga mencoba membuka usaha clothing. Lalu ia juga membuka bisnis software house (SH). Software house ini rupanya jalan dan pada 2010, karena banyak permintaan di Jakarta, akhirnya ia memindahkan usaha ke Jakarta.

Di Jakarta, tahun 2013 ia sempat bertemu dan dimentori tim Founder Institute guna mengembangkan startup Codemi ini. Tapi apa daya, Zaki kemudian berbeda pandangan dengan para mentornya di Founder Institute. Waktu itu semua mentor tidak setuju dengan model bisnis "menjual konten software" alias aksesnya mesti free. Tak heran bisnis Codemi saat itu seperti open online course, semua orang bisa mengajar dan belajar disitu. "Tapi saya pikir, kalau semua gratis, kami tidak bisa make money dong?". Walhasil usaha itu tahun 2014 ditutup Zaki dan pada 2014 akhir ia mengganti konsep bisnisnya. "Kita ubah dari open online course menjadi LMS. Kami menyewakan software Codemi ini ke perusahaan-perusahaan supaya perusahaan bisa mengelola training untuk karyawannya," ujar Zaki dengan penuh keyakinan.

Banyak kawan Zaki yang saat itu skeptis dengan model bisnis dan masa depan Codemi. Tapi Zaki punya keyakinan, lalu ia mengontak 30 orang HR di Jakarta dan menginterview satu per satu. Ternyata dari semua yang ia temui, baru satu perusahaan yang sudah punya LMS, itupun LMS dari perusahaan induknya karena ia perusahaan Inggris. "Tiga bulan setelah itu saya berani mulai menyewakan Codemi. Marketnya masih sangat luas di Indonesia dan kompetitor-kompetitor yang lain harganya luar biasa mahal. Kami tawarkan produk sama dengan harga yang kompetitif dan dibuat di Indonesia, jadi supportnya lumayan cepat," ungkap Zaki.

Model bisnis Codemi ialah SaaS (Software as a Service), pihak perusahaan penyewa membayar sesuai penggunaan. Pihaknnya sudah membuat aplikasinya, ditempatkan di cloud, begitu ada karyawan A yang login maka logonya akan berubah jadi logo perusahaan A. Nah, untuk mendapatkan pelanggan, Zaki menelpon dan mendatangi satu per satu calon pelanggannya seraya menawarkan pilot project. Dalam mencari pelanggan, Zaki fokus menggarap perusahaan besar yang punya karyawan diatas 1.000 orang, khususnya di industri financial services seperti banking, insurance, sekuritas, multifinance serta industri otomotif dan e-commerce. "Karena di perusahaan superbesar itu tingkat kebutuhannya memang tinggi, urgent. Dari sisi budget mereka juga sudah punya," kata pria yang kini sedang menempuh kuliah S1 online di LSPR Jurusan Marketing ini.

Dari sisi konten, Codemi fokus di tiga pengalaman belajar. Pertama, e-learning dan online, belajar sendiri dari video dan pdf. Kedua, belajar formal di dalam kelas. Di sini Codemi bisa mengelola pendaftarannya melalui aplikasi. Sistemnya in-house training, jadi perusahaan mengelola classroom trainingnya sendiri. Pihaknya juga mulai kembangkan public training, bekerjasama dengan provider training di Jakarta untuk memasukkan konten training kelasnya di Codemi. Kalau ada karyawan yang mau ikut training tidak perlu request ke HR, tapi tinggal pilih dari Mobile Apps. Ketiga, collaborative learning atau learning from other. "Di perusahaan besar,  banyak yang  karyawan itu ahli di bidang tertentu, nah Codemi bisa mempertemukan orang yang mau belajar sesuatu di perusahaan ke ekspertnya masing-masing di internal perusahaan melalui sistem," katanya.

Zaki bersyukur karena pertumbuhan bisnisnya dalam empat tahun ini cukup ajaib.  "Tahun 2017-2018 lonjakan user hampir 10 kali lipat, yakni sudah mencapai 2 juta user," katanya. Menurutnya, cepatnya pertumbuhan ini, selain karena kerja keras tim, juga faktor dukungan ekosistem yang sudah siap. "Ekosistemnya terbantu oleh perusahaan-perusahaan provider cloud seperti Google, Amazon, dan Alibab) yang aktif mengedukasi market tentang cloud. Saat kami dekati tahun 2015, market masih banyak yang belum siap," lanjutnya. Tahun depan pihaknya mulai akan menggarap segmen perusahaan skala medium dan mengembangkan produknya dengan menggandeng para trainer di seputar Jakarta untuk membuat video-video training pembelajaran. Kini pihaknya sudah punya 60 video dan menargetkan punya 150 video. 

Djoko Kurniawan, pemerhati bisnis startup melihat Codemi punya potensi bagus untuk berkembang. "Hal yang perlu dilakukan agar bisnis Codemi bisa sustain, meningkatkan brand awareness, terus-menerus melakukan edukasi market, memperbanyak customer segment,  memperluas key partners, dan terus meningkatkan hubungan baik dengan customer dengan memberikan sistem support yang mudah," saran Djoko. Codemi juga mesti terus menambah konten online training bekerja sama dengan lebih banyak konsultan/mentor bisnis, selain harus terus mengembangkan internal programmernya guna mendukung pertumbuhan.

Saturday, November 30, 2019

Jaringan Telekomunikasi Aman Mandiri Telah Dikembangkan Hariff Group


Terwujudnya penyelenggaraan jaringan telekomunikasi yang aman dan mandiri  (JAM) yang khusus didesain untuk lalu lintas berkomunikasi antar instansi pemerintah tampaknya sudah menjadi hal urgent.  Kabarnya Kementerian PPN/ Bappenas  pun sudah memasukan Program Jaringan Pemerintahan yang aman dan mandiri dalam program prioritas pada  Rencana  Pembangunan Jangka Panjang Menengah Nasional  (RPJMN)  2020 -2024. Dasar hukumnya adalah Perpres No 96 Tahun 2014  tentang  Rencana Pita Lebar Indonesia  2014-2019. Aspek terpenting dari keberadaan pita lebar adalah  akses internet dengan jaminan konektivitas yang selalu tersambung, terjamin ketahanan dan keamanan informasinya.

Isu soal keamanan jaringan bagi komunikasi lembaga publik ini menjadi isu yang sangat penting terutama ketika berbicara aspek keamanan dan keterpaduan (integrasi). Tak heran, peneliti senior yang juga pakar telekomunikasi Nonot Harsono menyambut baik rencana Bappenas tersebut seraya memberikan beberapa catatan.  Selama ini kondisi  infrastruktur  system pemerintahan berbasis elektronika memang masih menemui sejumlah kelemahan: infrastruktur data center (IDC) tidak efisien, aplikasi e-government di instansi pemerintah tersebar  dan beragam, datanya tidak terintegrasi, dan sering terkena serangan cyber. "Pemerintah memang memerlukan infrastruktur dan aplikasi yang aman, tersandarisasi dan memiliki ketahanan keamanan siber," tutur Nonot yang aktif dalam kepengurusan Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (MASTEL) ini.
 
Menurut Nonot, keperluan terhadap jaringan telekomunikasi pemerintah yang aman sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi, lantaran tantangan komunikasi ke depan semakin kompleks.  Jaringan milik pemerintah mutlak harus terpisah dengan jaringan publik. Model jaringan seperti ini akan sangat bermanfaat, sebagai jaringan penghubung antar lembaga kementerian dan lembaga, jaringan penghubung antara pemerintah pusat dengan seluruh Pemda, Kecamatan dan Kelurahan. “Semua negara maju sudah memanfaatkan TIK untuk meningkatkan kualitas pelayananan publik, Indonesia sudah tertinggal jauh,” papar Nonot. Terlebih selama ini yang terjadi setiap rapat perencanaan nasional selalu bingung data tidak akurat. Setiap kali melakukan upaya evaluasi dan koordinasi kesulitan karena terkendala komunikasi dan tidak lengkap.


Untuk mewujudkan jaringan aman mandiri tersebut,  lanjut Nonot Harsono, diperlukan komitmen yang kuat, strategi dan cara bisa menyesuaikan dengan situasi. Disamping itu juga perlu perencanaan yang lengkap dan realistis.  Ia menyarankan agar pemerintah, segera membuat  SOP koordinasi antar kementerian dan membentuk panitia Antar Kelembagaan. Kemudian menyepakati sinergi dan harmoni dengan para operator jaringan dan jasa, mengkoordinasikan semua Pemda dan Pemkot untuk terlibat aktif.  Serta menggunakan pendekatan yang kooperatif dengan memadukan semua potensi yang ada. Yang juga tak boleh dilupakan, jaringan tersebut mutlak  diselenggarakan dan diproduksi oleh para pelaku industri dalam negeri, karena itu terkait alasan yang mendasar, yakni aspek keamanan dan kemandirian itu sendiri. Alangkah ironisnya bila dalam jaringan komunikasi pemerintah ini sistim dan peralatannya justru disediakan dan dikelola pemain asing.


Hal senada dikemukakan ahli manajemen industri Mathiyas Thaib yang juga menyambut positif rencana Bappenas membangun jaringan telekomunikasi aman mandiri untuk komunikasi dan integrasi lembaga publik. Ia juga menyarankan agar rencana tersebut juga menjadi momentum untuk membangkitkan industri telekomuniasi dalam negeri yang nyaris habis. Mathiyas merasa prihatin dengan perkembangan industri telekomunkasi di Indonesia yang secara industri dan konsumsi berkembang luar biasa besar namun perangkat dan penyedia sistemnya kebanyakan justru pemain asing sedangkan pemain lokal yang masih eksis tak lebih dari lima pemain. "Kita menyambut baik upaya Pak Jokowi membangun infrastruktur dan itu sudah sangat benar. Selanjutnya, kita harapkan membangun industri dan manufaktur lokal, karena infrastruktur yang terbangun baik tapi tanpa diikuti dengan upaya membangun pemain industri lokal sama saja menggelar karpet merah bagi pemain asing," Mathiyas menegaskan. 


Nonot juga berpandangan seiring, negara harus memberikan kesempatan kepada para pelaku industri dalam negeri baik BUMN maupun Swasta yang memiliki kapabilitas dan sudah punya kesiapan. “ Saya yakin kita mampu mendesain, memproduksi dan menyelenggarakan Jaringan pemerintah bekerjasama dengan industri nasional,” jelas  Nonot.  Denga cara itu, selain jaringan dan sistimnya aman-mandiri, pemerintah juga sekaligus bisa membina industri nasional agar kita tidak bergantung dan tersandera oleh negara atau pihak asing. “Kita sudah sering mendengar pidato-pidato tentang kemandirian, saat ini harus ada yang memikirkan bagaimana terealisasi,” tukasnya. Sudah saatnya pemerintah membuat peta dan roadmapnya, dan juga membuat daftar pelaku-pelaku industri yang bisa mendukung program tersebut.

Salah satu pemain swasta nasional yang dalam 10 tahun terakhir sangat serius dalam melakukan riset pengembangan produk dan uji implementasi ialah Group Hariff (PT Hariff Daya Tunggal) yang berpusat di Bandung. Perusahaan engineering yang dipelopori para alumni ITB ini memang sudah terbukti menelorkan banyak karya yang sukses di lapangan. Selain produk-produk teknologi telekomunikasi yang hingga kini terus digunakan kalangan operator seluler, juga punya produk yang sudah dipakai kalangan swasta dan pemerintah. Jaringan telekomunikasi aman mandiri juga bagian dari sistim yang dikembangkan Hariff Group untuk membantu pengembangan sistim komunikasi yang aman bagi lembaga-lembaga publik.

Sudarmadi

Friday, September 1, 2017

Kebun Sawit Dijual, Sudah Ada PKS




Berikut ini kebun sawit yang pada posisi 'dijual" atau boleh diakuisi oleh pihak lain. Kebun-kebun tersebut sudah memiliki pabrik kelapa sawit (PKS) sendiri untuk mengolahkan buah TBS dari kebun sendiri maupun masyarakat sekitar. Kebun-kebun dibawah ini dimiliki oleh pengusaha yang berbeda-beda, jadi bukan satu pemilik.



A. Kebun Sawit Kaltim

Luas kebun tertanam 6.500 ha
Sudah punya pabrik 60 TON/Jam
Selama ini lebih banyak mengolah TBS dari kebun masyarakat

B. Kebun Sawit Kalsel

Luas 11.5000 Ha
Tertanam 7.300 ha
Sudah punya pabrik sawit 30 Ton/Jam

C. Kebun Sawit Palembang

Luas 6.100 ha
Semua lahan HGU
Semua sudah tertanam dan menghasilkan
Sudah ada pabrik PKS kapasitas 45 ton/jam


Bagi peminat, data lebih detil akan dikirimkan.
Tersedia success fee bagi yang bisa membantu menjualkan.

Terima kasih

Sudarmadi
email: wingdarmadi@gmail.com












Monday, August 28, 2017

Tip Mendapatkan Kredit Modal Kerja dan Investasi Dari Bank



Adalah sebuah hal yang biasa dan wajar bila sebuah perusahaan pada sebuah titik harus pinjam uang ke bank untuk mendanai usaha, apakah itu kredit investasi atau kredit modal kerja. Bahkan sampai ada guyonan, kalau tidak pinjam ke bank berarti masih perusahaan UKM. Maklum, seiring makin banyaknya peluang bisnis, berteman dan meminjam ke bank amat penting agar bisa menangkap semua peluang yg lewat.

Tapi faktanya memang tidak mudah meminjam ke bank. Tidak selalu kredit yang diajukan disetujui. Sebagian besar masalah pebisnis muda ialah kesulitan memperoleh permodalan dari bank.

Sebenarnya, hal tersebut tak perlu dikhawatirkan apabila Anda bisa meyakinkan bank dan selalu dapat dipercaya. 

Secara umum, bank memang harus hati-hati jaga uang karena duit bank juga duit nasabah, duitnya para penabung. Mereka wajib menaati prinsip prudential banking principles yang bertujuan mengamankan dana yang akan disalurkan sebagai pinjaman kepada calon debitur agar bisa kembali sesuai dengan jadwal dan nominal yang telah ditetapkan.

Tapi di lain sisi, anda juga perlu tahu apa sih landasan yang biasanya dipakai perbankan untuk menilai kelayakan calon debitur atau perusahaan yng akan mengajukan kredit? 

Jawabannya bisa disingkat dalam 6 C. Apa itu? 


Character

Si bank pertama kali akan melihat karakter si peminjam, suka ngemplang hutang atau nggak. Suka menipu nggak, banyak kasus hukum atau nggak. Penilaian karakter ini erat kaitannya dengan reputasi calon debitur di masyarakat dan track record-nya di kalangan para pengusaha atau pihak-pihak yang sering menjalin relasi dengannya, apakah calon debitur itu termasuk yang bisa dipercaya atau tidak dan lain sebagainya. Bank juga akan melihat apakah bisnis calon debitur memiliki sejarah pinjaman yang bermasalah atau tidak.

Capital

Ketika akan pinjam bank, bank pun akan melihat perusahaan anda seberapa punya modal. Karena dalam sebuah proyek investasi, biasanya, bank juga akan meminta debitur untuk menyediakan modal sendiri dalam kisaran 20-30%, sisanya baru dibiayai bank. Secara aturannya, bank tidak bisa 100 persen memberikan pembiayaan ke usaha yang mengajukan permodalan, biasanya hanya 70-80% yg dikasih bank. Calon debitur harus memiliki self financing atau modal sendiri yang bisa berasal dari modal disetor atau laba yang terakumulasi menjadi modal.


Capacity

Bank akan melihat kemampuan atau kapasitas calon debitur dalam mengelola usaha, menangani proyek, menyelesaikan proyek, mengembangkan usahanya, menjaga bisnisnya sehingga pasti akan membuat sebuah kesimpula apakah si calon debitur akan  mampu membayar kembali pinjaman sesuai dengan jadwal dan jumlah yang telah ditetapkan.  Capacity di sini juga berkaitan dengan kapasitas usaha seperti hasil penjualan, struktur biaya, arus kas, perputaran tagihan, biaya terhadap pendapatan dan lain sebagainya.

Condition

Berhubungan dengan kemampuan calon debitur dalam menghadapi perubahan kondisi lingkungan, baik yang menyangkut kondisi perekonomian dan kondisi sosial masyarakat serta politik, di mana usaha atau proyek berada.

Kondisi ini juga berkaitan dengan perizinan. Misalnya, untuk usaha mikro, izin tersebut dapat berasal dari kelurahan atau kecamatan, dan sebagainya.

Collateral

Berhubungan dengan jaminan utaman dalam pembiayaan yakni sumber pengembalian kredit dari proyek atau usaha yang dibiayai. Jenis jaminan terbagi menjadi dua yaitu jaminan berwujud dan tidak berwujud. Jaminan berwujud misalnya peralatan, mesin, kendaraan, bangunan, tanah dan sebagainya, sedangkan yang tak berwujud antara lain garansi personal atau perusahaan dan sebagainya. 

Close Relation

Bisnis perbankan adalah bisnis kepercayaan karena inti bisnis mereka adalah bisnis kepercayaan. Mereka hanya  meminjamkan uang untuk modal kepada siapa yang dipercaya. Nah, agar mereka bisa percaya, penting untuk menjalin komunikasi dan kedekatan dengan mereka. Tak kenal tak akan percaya. Kalau bank sudah percaya ke anda atau perusahaan anda, bahkan anda sedang tidak butuh kredit pun anda justru ditawari kok nggak ambil kredit, kok nggak ambil pinjaman lagi, dlll. Bahkan ketika ada peluang bisnis bagus mereka juga bisa refer peluang tersebut ke perusahaaan anda, Penting untuk menjadikan mereka sebagai teman bisnis anda. Kalau anda dekat dengan mereka, kalau kolateral kurang dikit akan diusahakan untuk dibantu bila prospek bisnisnya bagus. Kalau anda dekat, maka ketika agak sulit untuk nyicil, maka lebih mudah bicara solusi restrukturisasi hutang.


By the way, kalau perusahaan Bapak atau Ibu butuh modal kerja dari bank sebesar Rp 50 M- Rp 750 M, saya akan bantu kenalkan ke kawan saya eksekutif bank yg sekarang memang sedang aktif cari proyek/bisnis untuk difunding. Kredit bank bisa digunakan untuk investasi, modal kerja, modal untuk mendanai akuisisi sebuah bisnis, dan juga untuk refinancing hutang lama yang tingkat bunganya lebih besar. Saya welcome untuk membantu bila memang dibutuhkan.

Terima kasih / salam hormat

wingdarmadi@gmail.com





Kiat Cari Kredit Bank Untuk Mengembangkan Perusahaan



Adalah sebuah hal yang biasa dan wajar bila sebuah perusahaan pada sebuah titik harus pinjam uang ke bank untuk mendanai usaha, apakah itu kredit investasi atau kredit modal kerja. Bahkan sampai ada guyonan, kalau tidak pinjam ke bank berarti masih perusahaan UKM. Maklum, seiring makin banyaknya peluang bisnis, berteman dan meminjam ke bank amat penting agar bisa menangkap semua peluang yg lewat.

Tapi faktanya memang tidak mudah meminjam ke bank. Tidak selalu kredit yang diajukan disetujui. Sebagian besar masalah pebisnis muda ialah kesulitan memperoleh permodalan dari bank.

Sebenarnya, hal tersebut tak perlu dikhawatirkan apabila Anda bisa meyakinkan bank dan selalu dapat dipercaya. Anda dapat melakukannya dengan terus menjaga integritas kepada bank yang memberikan modal harus dijaga. Karena jika sudah pernah gagal di bank satu akan sulit mengajukan permodalan di bank lainnya.

Secara umum, bank memang harus hati-hati jaga uang karena duit bank juga duit nasabah, duitnya para penabung. Mereka wajib menaati prinsip prudential banking principles yang bertujuan mengamankan dana yang akan disalurkan sebagai pinjaman kepada calon debitur agar bisa kembali sesuai dengan jadwal dan nominal yang telah ditetapkan.

Tapi di lain sisi, anda juga perlu tahu apa sih landasan yang biasanya dipakai perbankan untuk menilai kelayakan calon debitur atau perusahaan yng akan mengajukan kredit? 

Jawabannya bisa disingkat dalam 5C. Apa itu? 


Character

Si bank pertama kali akan melihat karakter si peminjam, suka ngemplang hutang atau nggak. Suka menipu nggak, banyak kasus hukum atau nggak. Penilaian karakter ini erat kaitannya dengan reputasi calon debitur di masyarakat dan track record-nya di kalangan para pengusaha atau pihak-pihak yang sering menjalin relasi dengannya, apakah calon debitur itu termasuk yang bisa dipercaya atau tidak dan lain sebagainya. Bank juga akan melihat apakah bisnis calon debitur memiliki sejarah pinjaman yang bermasalah atau tidak.

Capital

Ketika akan pinjam bank, bank pun akan melihat perusahaan anda seberapa punya modal. Karena dalam sebuah proyek investasi, biasanya, bank juga akan meminta debitur untuk menyediakan modal sendiri dalam kisaran 20-30%, sisanya baru dibiayai bank. Secara aturannya, bank tidak bisa 100 persen memberikan pembiayaan ke usaha yang mengajukan permodalan, biasanya hanya 70-80% yg dikasih bank. Calon debitur harus memiliki self financing atau modal sendiri yang bisa berasal dari modal disetor atau laba yang terakumulasi menjadi modal.


Capacity

Bank akan melihat kemampuan atau kapasitas calon debitur dalam mengelola usaha, menangani proyek, menyelesaikan proyek, mengembangkan usahanya, menjaga bisnisnya sehingga pasti akan membuat sebuah kesimpula apakah si calon debitur akan  mampu membayar kembali pinjaman sesuai dengan jadwal dan jumlah yang telah ditetapkan.  Capacity di sini juga berkaitan dengan kapasitas usaha seperti hasil penjualan, struktur biaya, arus kas, perputaran tagihan, biaya terhadap pendapatan dan lain sebagainya.

Condition

Berhubungan dengan kemampuan calon debitur dalam menghadapi perubahan kondisi lingkungan, baik yang menyangkut kondisi perekonomian dan kondisi sosial masyarakat serta politik, di mana usaha atau proyek berada.

Kondisi ini juga berkaitan dengan perizinan. Misalnya, untuk usaha mikro, izin tersebut dapat berasal dari kelurahan atau kecamatan, dan sebagainya.

Collateral

Berhubungan dengan jaminan utaman dalam pembiayaan yakni sumber pengembalian kredit dari proyek atau usaha yang dibiayai. Jenis jaminan terbagi menjadi dua yaitu jaminan berwujud dan tidak berwujud. Jaminan berwujud misalnya peralatan, mesin, kendaraan, bangunan, tanah dan sebagainya, sedangkan yang tak berwujud antara lain garansi personal atau perusahaan dan sebagainya. 

By the way, kalau perusahaan Bapak atau Ibu butuh modal kerja dari bank sebesar Rp 50 M- Rp 750 M, saya akan bantu kenalkan ke kawan saya eksekutif bank yg sekarang memang sedang aktif cari proyek/bisnis untuk difunding. Kredit bank bisa digunakan untuk investasi, modal kerja, modal untuk mendanai akuisisi sebuah bisnis, dan juga untuk refinancing hutang lama yang tingkat bunganya lebih besar. Saya welcome untuk membantu bila memang dibutuhkan.

Terima kasih / salam hormat

wingdarmadi@gmail.com





Thursday, August 17, 2017

PT Hariff Daya Tunggal Engineering, Bintang Bisnis ICT dari Bandung



Perjalanan hidup tidaklah linear. Kegagalan dan kesulitan tak perlu disesali berlebihan karena semuanya bisa diselesaikan bila mengerahkan seluruh kesungguhan dan kemampuan. Kesuksesan hanyalah sebuah garis lanjut ketika siapapun mau menekuni bidang yang menjadi  spesialisasinya secara fokus dan terus mengembangkan diri. Prinsip itu tampaknya menjadi senjata andalan bagi Budi Permana dan lima kawannya dalam berwirausaha di bisnis telko, mengibarkan Group Hariff. Mengaplikasikan prinsip tersebut, Budi dkk sanggup memiliki perusahaan telko yang  memperkerjakan 700 karyawan.


Group Hariff (GH) yang asal Bandung ini tak salah bila disebut  sebagai salah satu pemain lokal besar besar di bisnis yang  digeluti. GH memang punya banyak anak usaha namun semuanya  fokus. Tak ada yang keluar dari bisnis intinya, bisnis telko. Gh memproduksi perangkat mekanik untuk menunjang industri infrastruktur telko. Mulai dari pembuatan power system, alat transmisi, pembuatan BTS baik yang mobile maupun fix, produk berbasis WiMax, hingga penyedia jaringan broadband wireless access.


HG menekuni mulai dari pelayanan jasa teknisnya, perencanaan sistem, pabrikasi hingga produk dan  layanan lain yang dikembangkan dengan sistem turnkey project untuk pelaku telko. Pelanggannya hampir seluruh operator seluler di  tanah air. Menarik, bila dulu perusahaan ini dibangun enam sekawan tanpa modal uang, kini sudah punya pabrik dan perkantoran seluas 1,3 ha di Jl Soekarno-Hatta Bandung. Kisaran omset tahunan Hariff Grup sudah ratusan miliar, menampung 700 karyawan tersebar di berbagai cabang  dan unit bisnisnya.






Kehadiran Hariff Group memang menjadi antitesis dari paradgima bahwa para entrepreneur lokal hanya bisa sukses di bisnis-bisnis  yang tak perlu 'putar otak' banyak serta di segmen produk non value added.  Sangat pantas kalau awal tahun 2009 ini Hariff Group menerima penghargaan Rintisan Teknologi dari Presiden RI atas prestasinya dalam melakukan  invensi (penciptaan atau perancangan) teknologi di berbagai bidang  yang digarapnya.


Bila dikilas balik, cikal-bakal Group Hariff dimulai dengan berkumpulnya 6 sekawan --  lima diantarannya jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) -- tahun  1982. Sejak awal mereka ingin mendirikan perusahaan bidang telekomunikasi. "Keenam orang ini pada dasarnya memang tukang ngoprek (suka utak-atik) barang. Tapi kita juga punya mimpi untuk meningkatkan produksi dalam negeri lewat kemampuan anak bangsa,"  jelas Budi Permana, satu dari enam sekawan itu yang sekarang didapok sebagai President Director PT Hariff Daya Tunggal Engineering.


Mereka berenam sebelumnya aktif di Radio 8 EH ITB -- radio  siaran mahasiswa ITB -- yang begitu lulus lalu memencar untuk mencari namun kemudian bertemu dan bersama lagi. "Ada sejarah cukup panjang  sebelumnya, satu sama lain sudah percaya, lalu bertemu lagi bikin usaha,"  ujar Budi Permana yang lulusan Teknik Elektro ITB angkatan '74' ini. Awalnya aktifitas usaha yang didirikan bergerak di proyek telekomunikasi HF, VHF dan UHF. Lalu, tahun 1986, juga sempat membuat perusahaan konsultan telko. Pengalaman selama menjalankan usaha-usaha awal itu rupanya menghasilkan jaringan dan kepercayaan terhadap kemampuan enam sekawan ini di dunia  infrastuktur telko.


Dua tahun kemudian, 1988, mereka mendapatkan proyek besar di  Sangatta, Kutai, Kalimantan Timur. Namun menemui kendala karena belum punya  bendera perusahaan yang bisa dijadikan kendaraan untuk ikut tender proyek. Akhirnya, mereka mengakuisisi perusahaan bidang general trading bernama PT Hariff Tunggal Engineering, milik Ahmad Shukri Bay  yang saat ini menjadi komisarisnya.


Proyek pertama Hariff, mendirikan stasiun bumi di PT Kaltim Prima Coal, Kutai, Kalimantan Timur. Ia teringat, dalam mengerjakan proyek itu pihaknya tidak punya modal uang, hanya berbekal kepercayaan mitra.  Padahal nilai proyeknya Rp 2,3 miliar. Angka yang terbilang untuk  saat itu, apalagi bagi entrepreneur pemula. Mereka mampu menjalankan proyek itu karena kepercayaan pihak  bank. "Kepada bank saya jelaskan bahwa kita punya bisnis dengan prospek seperti ini, kemampuan kita begini. Saya modal dengkul tidak  punya apa-apa. Untungnya pada saat itu pemberian pembiayaan dari  bank bagitu mudah sehingga soal keuangan tidak menjadi  masalah," kenang laki-laki kelahiran Tasik 8 Februari 1954 ini.


Toh demikian, dalam perjalanannya, dua tahun kemudian bisnis mereka kurang mulus. Memang perusahaan itu punya proyek namun secara keseluruhan operasi bisnisnya merugi. Tak heran,  bank juga memasukkannya sebagai perusahaan tak layak kredit. Tak  pelak lagi, Budi ikut pusing tujuh-keliling saat itu, walaupun posisinya bukanlah orang nomor atau dirut sebagaimana saat ini. Sebenarnya,  ditengah perusahaan patungan yang gonjang-ganjing itu bisa saja Budi cabut keluar dan memilih bergabung di perusahaan mapan yang  memang banyak yang membutuhkan tenaga ahli seperti dirinya. Hanya  saja, di benaknya terbayang-bayang nasib 15 karyawan lainnya yang  menggantungkan hidup dari perusahaan itu.


Buramnya kondisi perusahaan tersebut akhirnya justru melecutnya untuk bertahan dan mengembangkan agar lebih maju. Gayung bersambut, mulai tahun 1991 ia didapok untuk mengambil alih nahkoda  perusahaan, menjadi presiden direktur. Ia lalu mencoba menstimulir  timnya untuk mencari peluang-peluang baru agar perusahaan bisa bertahan. Tak  heran, tak lama setelah itu Hariff mulai banyak menggarap proyek  jaringan kabel telepon di Surabaya, Jakarta dan Batam.


Lalu, tahun 1994 saat teknologi telepon seluler mulai muncul, Hariff  juga mulai ikut terjun sebagai penyedia infrastruktur. Ia menawarkan jasanya ke perusahaan-perusahaan operator seluler. Cara ini tak terlalu sulit dilakukan karena sebelumnya rata-rata pemain seluler sudah kenal dan percaya dengan awak Hariff. Di industri seluler, sejak awal produk yang disediakan Hariff ialah power system -- unit alat yang  merupakan bagian dari base transceiver station (BTS). Penemuan  bisnis power system merupakan berkah tersendiri bagi Hariff karena dalam perjalanannya, bisnis itu mampu menjadi tulang punggung.  "Bahkan hingga saat ini produk ini menjadi kontribusi terbesar  perusahaan," Budi jujur mengakuinya.


Tak lama setelah mengeluakan power system, Hariff juga mengembangkan perangkat mobile  BTS. Tak ubahnya BTS, mobile BTS juga sangat dibutuhkan perusahaan  operator seluler untuk menjalan bisnis seluler. Bedanya, Mobile BTS digunakan untuk daerah-daerah yang belum terjangkau. Ia juga bisa berfungsi sebagai alat pemancing sekaligus alat survei jumlah customer.  Misal ada suatu daerah yang belum terjangkau jaringan (belum ada  BTS-nya), maka dipasanglah mobile BTS. Ketika responnya tampak bagus atau jumlah customer sudah banyak baru kemudian dibangun BTS permanen.  "Kalau harus membangun fixed BTS butuh waktu lama. Kalau mesti nunggu BTS fix bisa kalah cepat, pelanggan keduluan direbut operator lain," Budi menjelaskan kenapa mobile BTS banyak dibutuhkan. Yang menarik, di bisnis mobile BTS ini Hariff  merupakan pelopor dan hingga kini jumlah produksinya sudah lebih dari 3  ribu unit.


Pada tahun 2000 GH ingin memperluas bisnisnya di bidang telko sehingga mendirikan anak perusahaan lagi. Budi dkk memimpikan sebanyak mungkin pekerjaan telko di Indonesia dikerjakan perusahaan lokal. Hariff yang sebelumnya lebih banyak bermain di sisi  elektroniknya kemudian juga tertarik ke industri mekanikal-nya. Maka didirikanlah PT Telehouse Engineering  (Telehouse). Telehouse membuat perangkat mekanik untuk menunjang  industri infrastruktur telko, contohnya membuat tower BTS.


"Omset Telehouse tahun kemarin Rp 230 miliar dan bisa membangun hingga 7000 BTS dalam satu tahun," ujar Budi seraya menjelaskan pihaknya punya perwakilan di 32 kota Indonesia untuk membantu  service dan logistik dari bisnis ini. Tak hanya itu, di tahun 2004 juga  mendirikan PT Sarana Inti Persada (SIP) yang bisnisnya menyewakan infrastruktur telko. Maklum, makin banyak perusahaan operator seluler yang tidak ingin membangun sendiri infrastruktur BTS-nya, namun menyewa milik pihak ketiga seperti SIP. Dalam lingkup Group  Hariff, SIP sekaligus juga ditujukan untuk menampung produk-produk Telehouse. Hingga saat ini ada sekitar 110 tower yang telah dibangun  dan disewakan oleh SIP. Baik Telehouse maupun SIP merupakan pilar  penting GH saat ini.


Rupanya kesuksesan demi kesuksesan yang sudah diraih tak membuat punggawa GH puas. Terbukti mereka terus melakukan investasi di  ceruk-ceruk baru bisnis telko. Tahun 2006, contohnya, Hariff masuk mengerjakan proyek WiMax. Budi dkk merasa tertantang ketika  pemerintah menawarkan tender teknologi pita lebar (broadband wireless access/BWA) dengan  memprioritaskan konten lokal. "Apa betul? Saya bergerak di industri  ini sejak tahun 80-an dan tidak pernah ada local content. Local content tidak lebih dari 5%. Pengalaman sebelumnya menunjukkan betapa sulit meyakinkan customer karena sudah minded dengan produk luar.  Padahal kita ini negara customer, negara lain berebut menjual ke  sini," ujarnya dengan nada menggebu-gebu.


Sebab itu, ketika pemerintah mengumumkan tender BWA Budi dkk sangat antusias menyambutnya. Mereka punya keyakinan dengan menggunakan perangkat dalam negeri, perusahaan operator akan mendapatkan harga jauh lebih murah,  bisa menghemat 50%. GH berinvestasi awal Rp 10 miliar di bisnis Wimax. Untuk mewadahi bisnis BWA, manajemen GH mendirikan anak  usaha baru, PT Telemedia Nusantara.


Tahun 2008, GH punya peluang manis untuk mengakuisisi perusahaan yang memiliki  lisensi BWA 3,3 GHz, yakni PT Starcom Solusindo (Starcom). "Itu  kesempatan bagus bagi kami sehingga kami punya radio, punya lisensi  dan frekuensinya. Makanya bisa menjadi operator. Kita bisa  menyediakan internet murah," katanya sumringah. Starcom yang 100% sahamnya diakusisi Group Hariff itu hingga April 2009 akan mengembangkan pasar dan jaringan di 11 region dari target  14 region. "Yang sudah dipasang di Batam, Kalimantan, Bangka, dan Bali. Untuk Surabaya sedang digarap," terang Budi. Selanjutnya manajemen GH berencana menggabungkan (merger) Starcom dengan PT Telemedia Nusantara. Maklum, Telemedia Nusantara punya lisensi ISP sehingga  kalau digabung akan sangat sinergis.


Sekilas perjalanan bisnis GH tampak mulus. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Pada saat krismon 1998 contohnya, GH juga terpukul. Bisnisnya mengkeret. Hanya saja GH bisa menjadikan krisis  ekonomi sebagai peluang. Pada saat itu, tim R&D GH berhasil membuat  suatu perangkat yang fungsinya untuk menggandakan kemampuan transmisi. Menurut Budi, hanya ada 5 perusahaan di dunia yang bisa membuat  perangkat serupa, dan GH bisa menjual hingga ratusan modul. Apalagi harganya mampu bersaing dengan produk impor, karena harganya 80% lebih murah.  "Saat itu untuk mendapatkan alat ini begitu sulit. Transmisi  masih jarang. Umumnya perusahaan menggunakan teknologi microwave yang kapasitasnya hanya 4 MB. Nah alat itu bisa berfungsi sebagai  penggada sehingga kemampuan transmisinya bisa 8 MB," ujarnya.


Yang menarik, saat krismin GH punya stok produk barang itu cukup banyak yang dibiayai dengan harga produksi waktu ikurs dollar masih Rp 2500 sementara dijual dengan harga ketika USD sudah melonjak hingga level Rp 16 ribu. Tak heran, walau omset GH saat itu  turun dari Rp 20 miliar menjadi Rp 5 miliar, tetapi karena semuanya  produk stok dari barang lama sehingga tak perlu cost produksi lagi, maka GH bisa menuai untung. "Itulah yang menyelamatkan perusahaan ini dari bahtera krismon. Kami bisa hidup tanpa ada PHK," kata Budi mengenang. Yang  jelas, setelah krismon, kinerja GH bak anak panah yang dilepaskan dari busur. Melesat. Omset GH tumbuh terus berlipat-lipat tiap  tahunnya dan tahun lalu sudah mencapai Rp 800 M.


"Mensyukuri apa yang diberikan Alloh," Budi yang terus berusaha menjadi entrepreneur spiritual ini menuturkan kunci suksesnya.  Menurutnya, tidak perlu muluk-muluk mencari bisnis lain yang tidak dikuasai. "Kita fokus saja pada bidang yang kita kuasai". Baginya yang  terpenting di binsis infrastruktur telko ini soal kepercayaan pelanggan. Faktor trust. Sebab itu, pekerjaan membina kepercayaan pula yang terus dikembangkan. Kepercayaan sendiri tercipta melalui  pengalaman-pengalaman dalam pelayanan dengan cara terus memberikan solusi-solusi terbaik untuk pelanggan. "Kami punya ujung tombak di seluruh Indonesia sehingga kalau ada masalah bisa melakukan penangan cepat," Budi menceritakan kiatnya


Promosi yang dijalankan GH lebih banyak melalui mulut ke mulut. Selain itu juga melalui personal branding dari para pimpinan GH yang memang sudah dikenal di industri seluler tanah air. Toh  demikian, semua itu ujung-ujungnya tetap harus melalui profesionalisme dalam mengerjakan semua permintaan pelanggan.


Diantara mitra GH ialah Nokia Siemens Network (NSN) yang di  Indonesia banyak membangun infrstruktur jaringan seluler. Hariff sudah bermitra dengan Nokia sejak 2001. NSN banyak bekerjasama dengan Hariff untuk membangun lokasi-lokasi pemancar dan penerima GSM di wilayah di Indonesia, mulai dari kota besar hingga kota kecamatan. Hariff menyediakan perangkat catuan daya yang  diperlukan di lokasi.


Selain itu Nokia Siemens Network, Telkomsel juga termasuk diantara  deretan mitra pelanggan GH. Telkomsel bekerja kerjasama Hariff sudah terjalin sejak Telkomsel berdiri. Hariff banyak bekerjsama dengan Telkomsel terutama untuk menyediakan power system. Ketika Telkomsel ekspansi besar-besaran dalam pembangunan BTS di berbagai daerah, Hariff banyak terlibat. Banyak perusahaan yang menawarkan power system ke Telkomsel, namun siapa yang teknologinya cocok dan harganya sesuai itu yang dipilih,  Selain itu Telkomsel juga bekerjasama dengan untuk pengadaan "combat" mobile  BTS yang difungsikan untuk daerah-daerah yang belum terjangkau sinyal jika ada event tertentu.


Yang jelas, sejauh ini pengalaman kerjasama dengan GH dinilai cukup memuaskan. Hariff memberikan support cukup baik. Ketika dibutuhkan bisa langsung menghandle masalah serta memberikan solusi sesuai kebutuhan. Ia  punya organisasi di berbagai provinsi sehingga kalau ada gangguan pemeliharaan bisa cepat ditangani,. Tenaga ahlinya juga kompeten di bidangnya.



Pemerhati industri telko Gunawan Wibisono menimpali, sepengetahuannya Hariff merupakan perusahaan lokal di bidang pembuatan rectifier yang sangat dibutuhkan para operator telko untuk mensupport sistem catu daya. Ia melihat Hariff cukup berpengalaman dan punya SDM serta organisasi  yang solid. Manajemen Hariff telah mampu menangkap peluang bisnis di  telko seluler yang hampir semuanya dikuasai asing ini secara jeli. "Setahu saya dia satu-satunya pemain lokal yang memproduksi  rectifier," kata Gunawan.


Kebutuhan akan perangkat BWA (dibaca WiMAX) di Indonesia sangat  besar, apalagi sekarang pemerintah mengeluarkan regulasi BWA yang membuat makin kondusif bagi perkembangan bisnis perangkat BWA. Berbicara prospek Hariff, kata Gunawan, sangat tergantung pada strategi yang dijalankan  karena di segmen BWA ada kompetitor seperti TRG dan LEN yang juga  pemain lokal.


Gunawan menyarankan, agar mampu terus eksis, GH mesti terus  menghasilkan produk-produk perangkat telko yang mengikuti perkembangan teknologi. "Setelah WiMAX 16d tentu harus bisa  dilanjutkan atau berevoluasi ke WiMAX 16eatau 16m, dan bila dimungkinkan siap-siap menangkap peluang peengembangan teknologi LTE," pesannya. Juga perlu juga berkolaborasi dengan partner asing yang  kredibel. "Kolaborasi adalah langkah yang efisien dan efektif dalam  mengembangkan bisnis saat ini," Gunawan menyarankan.


Selaku komandan GH Budi sendiri optimis industri telekomunikasi di Indonesia masih terus menarik sehingga GH tetap punya prospek cerah. "Saat Indonesia booming satelit, banyak  perusahaan AS kaya raya. Begitu juga waktu booming seluler. Dan saat ini giliran WiMax. Industri seluler sudah mencapai 120 juta pelanggan dalam 15 tahun terakhir, harapannya industri WiMax juga mengalami  nasib sama, semakin banyak orang yang mengakses internet," Budi  menjelaskan visinya.


Yang pasti pihaknya terus berusaha tidak tertinggal dengan cara terus melakukan inovasi. "Kita selalu berpikir untuk memberi suatu kontribusi untuk bangsa, dan kami tidak ingin jadi follower," prinsip engineer yang suka ngoprek ini. Untuk itu pula kini pihaknya sedang menyiapkan untuk pengembangan bisnis konten yang kini juga makin dilirik kalangan network provider dan operator.  Bahkan Group Hariff kini juga sudah membangun sistem telekomunikasi yang digunakan untuk kepentingan militer dan pertempuran. Selama ini sistem pengendalian telekomunikasi militer selalu dipasok oleh oleh produsen software asing. Hal inilah yang memunculkan keprihatinan para petinggi Hariff untuk membuat solusi untuk sistem militer agar kerahasian negara tidak jatuh ke tangan asing.








Membedah Kinerja Sekar Bumi



Bisnis makanan dan minuman terbukti menjadi sektor paling stabil dibanding sektor bisnis lain. Tak heran bila perusahaan-perusahaan yang berbisnis pada sektor tersebut kinerjanya cenderung lebih terjaga, tidak mudah goyah. Terlebih kalau perusahaan itu bisa mendiversifikasi marketnya hingga tak tergantung pasar domestik. 

Salah satau satu saham perusahaan publik yang layak dicermati, PT Sekar Bumi Tbk (SKBM) yang bisnisnya di bidang pengolahaan hasil laut secara terintegrasi. Perusahaan ini punya prospek bagus karena pasarnya juga kuat di pasar global. Dus, tak semata-mata tergantung pasar Indonesia. Terlebih Sekar Bumi dalam beberapa tahun belakangan juga aktif melakukan ekspansi bisnis dan mendirikan pabrik-pabrik baru. 

Produsen makanan beku ini sekarang juga sedang mempersiapkan untuk membangun pabrik pengolahan makanan beku di lamongan, Jawa timur. Presiden Direktur SKBM Harry Lukminto menjelaskan, nilai investasi pabrik baru ini kurang lebih sama dengan nilai investasi pabrik sebelumnya, sekitar Rp 200 miliar. Catatan saja, belum lama ini perseroan baru merampungkan pembangunan pabrik baru di Cikupa, Tangerang. "Beberapa pabrik mulai kami bangun karena utilisasi pabrik lama sudah mendekati 100%," tutur Harry. 

Di sisi lain, manajemen SKBM mulai melihat adanya peluang pergeseran permintaan makanan beku yang mengarah ke produk SKBM baik di pasar dalam negeri maupun luar negeri. Saat ini ada beberapa lini produksi yang digarap Sekar Bumi melalui pabriknya di Cikupa. Ada yang untuk mengolah sosis dengan bahan baku ikan, ada juga yang untuk divisi makanan olahan SKBM. Lokasi Cikupa dipilih karena dekat dengan Jakarta.

Pasar makanan siap saji Indonesia memang semakin berkembang sehingga perseroan berencana terus ekspansi kapasitas dan menjadikan wilayah Jakarta untuk logistik khusus makanan beku. Sejauh ini, sekitar 85% pendapatan SKBM berasal dari pasar ekspor. Sisa 15% berasal dari penjualan dalam negeri. Per Juni, total penjualan SKBM tercatat Rp 704,18 miliar. Pada tahun buku 2015, perseroan meraih penjualan setahun sebesar Rp 1,36 triliun.

Tahun depan, SKBM akan mengembangkan pangsa pasarnya ke wilayah Afrika. Ini merupakan target pasar baru bagi perseroan. “Kami akan kembangkan ke sana, terutama untuk makanan olahan beku,” ujar Harry. Selain mengembangkan pasar di luar negeri, Sekar Bumi berniat meningkatkan pangsa pasar dalam negerinya menjadi 25% dari total penjualan.

SKBM merupakan perusahaan yang menaungi brand Finna, sejak awal sudah melakukan ekspor. Perusahaan ini sudah mendapatkan penghargaan Primaniyarta empat kali berturut-turut. Salah satu pelanggan besarnya ialah Walmart, raksasa ritel asal Amerika. SKBM telah mendapatkan audit green investment dari Walmart dan meraih the highest rating pada sistem mereka. Selain itu, salah satu pabrik Sekar Bumi juga sudah mendapat rating tertinggi dari The British Retail Consortium (BRC).

Sejauh ini SKBM memiliki tiga pabrik, yakni di Sidoarjo, Lamongan, dan Tangerang. Bulan Juni 2016 ini pabrik baru Sekar Bumi sudah mulai beroperasi. Tak salah bila melihat Sekar Bumi sebagai pemain udang terintegrasi karena perusahaan ini memang memiliki bisnis hulu-hilir, mulai dari pabrik khusus udang, bahan pakan, hingga tambak udang. Perusahaan ini membudidayakan udang vannamei atau whiteleg shrimp. Selain itu ada juga produk seafood seperti ikan, mini wonton, fish ball, fish cake, samosa, dim sum, dll.

Belakangan ini SKBM juga mulai memperkenalkan makan ekspor seperti frozen tempe, frozen petai, frozen lele, frozen unagi atau belut, frozen bumbu pecel, ke Korea dan Middle East. Pada tahun 2017 SKBM berharap bisa mendobelkan bahkan mentriplekan volume penjualan dan di 2018-2019 bisa mencapai 85.000 ton pertahun untuk produksi makanan udang maupun makanan value added (frozen food).

Dalam waktu dekat, SKBM juga akan menggelar rights issue. Perseroan bakal menerbitkan 2,3 miliar saham baru atau setara dengan 71,06% dari modal disetor. Target perolehan dananya sekitar Rp 1,2 triliun. Perseroan rencananya akan menggunakan dana hasil rights issue untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis serta melakukan transaksi akuisisi dan penyertaan modal anak usahanya yang bergerak dalam bidang pembesaran ikan air payau atau tambak udang.



Headline

10 reasons why Indian so success in global career and business

Indians have been successful in global careers and businesses for a variety of reasons. Here are 10 factors that contribute to their success...