Friday, September 1, 2017

Kebun Sawit Dijual, Sudah Ada PKS




Berikut ini kebun sawit yang pada posisi 'dijual" atau boleh diakuisi oleh pihak lain. Kebun-kebun tersebut sudah memiliki pabrik kelapa sawit (PKS) sendiri untuk mengolahkan buah TBS dari kebun sendiri maupun masyarakat sekitar. Kebun-kebun dibawah ini dimiliki oleh pengusaha yang berbeda-beda, jadi bukan satu pemilik.



A. Kebun Sawit Kaltim

Luas kebun tertanam 6.500 ha
Sudah punya pabrik 60 TON/Jam
Selama ini lebih banyak mengolah TBS dari kebun masyarakat

B. Kebun Sawit Kalsel

Luas 11.5000 Ha
Tertanam 7.300 ha
Sudah punya pabrik sawit 30 Ton/Jam

C. Kebun Sawit Palembang

Luas 6.100 ha
Semua lahan HGU
Semua sudah tertanam dan menghasilkan
Sudah ada pabrik PKS kapasitas 45 ton/jam


Bagi peminat, data lebih detil akan dikirimkan.
Tersedia success fee bagi yang bisa membantu menjualkan.

Terima kasih

Sudarmadi
email: wingdarmadi@gmail.com












Monday, August 28, 2017

Tip Mendapatkan Kredit Modal Kerja dan Investasi Dari Bank



Adalah sebuah hal yang biasa dan wajar bila sebuah perusahaan pada sebuah titik harus pinjam uang ke bank untuk mendanai usaha, apakah itu kredit investasi atau kredit modal kerja. Bahkan sampai ada guyonan, kalau tidak pinjam ke bank berarti masih perusahaan UKM. Maklum, seiring makin banyaknya peluang bisnis, berteman dan meminjam ke bank amat penting agar bisa menangkap semua peluang yg lewat.

Tapi faktanya memang tidak mudah meminjam ke bank. Tidak selalu kredit yang diajukan disetujui. Sebagian besar masalah pebisnis muda ialah kesulitan memperoleh permodalan dari bank.

Sebenarnya, hal tersebut tak perlu dikhawatirkan apabila Anda bisa meyakinkan bank dan selalu dapat dipercaya. 

Secara umum, bank memang harus hati-hati jaga uang karena duit bank juga duit nasabah, duitnya para penabung. Mereka wajib menaati prinsip prudential banking principles yang bertujuan mengamankan dana yang akan disalurkan sebagai pinjaman kepada calon debitur agar bisa kembali sesuai dengan jadwal dan nominal yang telah ditetapkan.

Tapi di lain sisi, anda juga perlu tahu apa sih landasan yang biasanya dipakai perbankan untuk menilai kelayakan calon debitur atau perusahaan yng akan mengajukan kredit? 

Jawabannya bisa disingkat dalam 6 C. Apa itu? 


Character

Si bank pertama kali akan melihat karakter si peminjam, suka ngemplang hutang atau nggak. Suka menipu nggak, banyak kasus hukum atau nggak. Penilaian karakter ini erat kaitannya dengan reputasi calon debitur di masyarakat dan track record-nya di kalangan para pengusaha atau pihak-pihak yang sering menjalin relasi dengannya, apakah calon debitur itu termasuk yang bisa dipercaya atau tidak dan lain sebagainya. Bank juga akan melihat apakah bisnis calon debitur memiliki sejarah pinjaman yang bermasalah atau tidak.

Capital

Ketika akan pinjam bank, bank pun akan melihat perusahaan anda seberapa punya modal. Karena dalam sebuah proyek investasi, biasanya, bank juga akan meminta debitur untuk menyediakan modal sendiri dalam kisaran 20-30%, sisanya baru dibiayai bank. Secara aturannya, bank tidak bisa 100 persen memberikan pembiayaan ke usaha yang mengajukan permodalan, biasanya hanya 70-80% yg dikasih bank. Calon debitur harus memiliki self financing atau modal sendiri yang bisa berasal dari modal disetor atau laba yang terakumulasi menjadi modal.


Capacity

Bank akan melihat kemampuan atau kapasitas calon debitur dalam mengelola usaha, menangani proyek, menyelesaikan proyek, mengembangkan usahanya, menjaga bisnisnya sehingga pasti akan membuat sebuah kesimpula apakah si calon debitur akan  mampu membayar kembali pinjaman sesuai dengan jadwal dan jumlah yang telah ditetapkan.  Capacity di sini juga berkaitan dengan kapasitas usaha seperti hasil penjualan, struktur biaya, arus kas, perputaran tagihan, biaya terhadap pendapatan dan lain sebagainya.

Condition

Berhubungan dengan kemampuan calon debitur dalam menghadapi perubahan kondisi lingkungan, baik yang menyangkut kondisi perekonomian dan kondisi sosial masyarakat serta politik, di mana usaha atau proyek berada.

Kondisi ini juga berkaitan dengan perizinan. Misalnya, untuk usaha mikro, izin tersebut dapat berasal dari kelurahan atau kecamatan, dan sebagainya.

Collateral

Berhubungan dengan jaminan utaman dalam pembiayaan yakni sumber pengembalian kredit dari proyek atau usaha yang dibiayai. Jenis jaminan terbagi menjadi dua yaitu jaminan berwujud dan tidak berwujud. Jaminan berwujud misalnya peralatan, mesin, kendaraan, bangunan, tanah dan sebagainya, sedangkan yang tak berwujud antara lain garansi personal atau perusahaan dan sebagainya. 

Close Relation

Bisnis perbankan adalah bisnis kepercayaan karena inti bisnis mereka adalah bisnis kepercayaan. Mereka hanya  meminjamkan uang untuk modal kepada siapa yang dipercaya. Nah, agar mereka bisa percaya, penting untuk menjalin komunikasi dan kedekatan dengan mereka. Tak kenal tak akan percaya. Kalau bank sudah percaya ke anda atau perusahaan anda, bahkan anda sedang tidak butuh kredit pun anda justru ditawari kok nggak ambil kredit, kok nggak ambil pinjaman lagi, dlll. Bahkan ketika ada peluang bisnis bagus mereka juga bisa refer peluang tersebut ke perusahaaan anda, Penting untuk menjadikan mereka sebagai teman bisnis anda. Kalau anda dekat dengan mereka, kalau kolateral kurang dikit akan diusahakan untuk dibantu bila prospek bisnisnya bagus. Kalau anda dekat, maka ketika agak sulit untuk nyicil, maka lebih mudah bicara solusi restrukturisasi hutang.


By the way, kalau perusahaan Bapak atau Ibu butuh modal kerja dari bank sebesar Rp 50 M- Rp 750 M, saya akan bantu kenalkan ke kawan saya eksekutif bank yg sekarang memang sedang aktif cari proyek/bisnis untuk difunding. Kredit bank bisa digunakan untuk investasi, modal kerja, modal untuk mendanai akuisisi sebuah bisnis, dan juga untuk refinancing hutang lama yang tingkat bunganya lebih besar. Saya welcome untuk membantu bila memang dibutuhkan.

Terima kasih / salam hormat

wingdarmadi@gmail.com





Kiat Cari Kredit Bank Untuk Mengembangkan Perusahaan



Adalah sebuah hal yang biasa dan wajar bila sebuah perusahaan pada sebuah titik harus pinjam uang ke bank untuk mendanai usaha, apakah itu kredit investasi atau kredit modal kerja. Bahkan sampai ada guyonan, kalau tidak pinjam ke bank berarti masih perusahaan UKM. Maklum, seiring makin banyaknya peluang bisnis, berteman dan meminjam ke bank amat penting agar bisa menangkap semua peluang yg lewat.

Tapi faktanya memang tidak mudah meminjam ke bank. Tidak selalu kredit yang diajukan disetujui. Sebagian besar masalah pebisnis muda ialah kesulitan memperoleh permodalan dari bank.

Sebenarnya, hal tersebut tak perlu dikhawatirkan apabila Anda bisa meyakinkan bank dan selalu dapat dipercaya. Anda dapat melakukannya dengan terus menjaga integritas kepada bank yang memberikan modal harus dijaga. Karena jika sudah pernah gagal di bank satu akan sulit mengajukan permodalan di bank lainnya.

Secara umum, bank memang harus hati-hati jaga uang karena duit bank juga duit nasabah, duitnya para penabung. Mereka wajib menaati prinsip prudential banking principles yang bertujuan mengamankan dana yang akan disalurkan sebagai pinjaman kepada calon debitur agar bisa kembali sesuai dengan jadwal dan nominal yang telah ditetapkan.

Tapi di lain sisi, anda juga perlu tahu apa sih landasan yang biasanya dipakai perbankan untuk menilai kelayakan calon debitur atau perusahaan yng akan mengajukan kredit? 

Jawabannya bisa disingkat dalam 5C. Apa itu? 


Character

Si bank pertama kali akan melihat karakter si peminjam, suka ngemplang hutang atau nggak. Suka menipu nggak, banyak kasus hukum atau nggak. Penilaian karakter ini erat kaitannya dengan reputasi calon debitur di masyarakat dan track record-nya di kalangan para pengusaha atau pihak-pihak yang sering menjalin relasi dengannya, apakah calon debitur itu termasuk yang bisa dipercaya atau tidak dan lain sebagainya. Bank juga akan melihat apakah bisnis calon debitur memiliki sejarah pinjaman yang bermasalah atau tidak.

Capital

Ketika akan pinjam bank, bank pun akan melihat perusahaan anda seberapa punya modal. Karena dalam sebuah proyek investasi, biasanya, bank juga akan meminta debitur untuk menyediakan modal sendiri dalam kisaran 20-30%, sisanya baru dibiayai bank. Secara aturannya, bank tidak bisa 100 persen memberikan pembiayaan ke usaha yang mengajukan permodalan, biasanya hanya 70-80% yg dikasih bank. Calon debitur harus memiliki self financing atau modal sendiri yang bisa berasal dari modal disetor atau laba yang terakumulasi menjadi modal.


Capacity

Bank akan melihat kemampuan atau kapasitas calon debitur dalam mengelola usaha, menangani proyek, menyelesaikan proyek, mengembangkan usahanya, menjaga bisnisnya sehingga pasti akan membuat sebuah kesimpula apakah si calon debitur akan  mampu membayar kembali pinjaman sesuai dengan jadwal dan jumlah yang telah ditetapkan.  Capacity di sini juga berkaitan dengan kapasitas usaha seperti hasil penjualan, struktur biaya, arus kas, perputaran tagihan, biaya terhadap pendapatan dan lain sebagainya.

Condition

Berhubungan dengan kemampuan calon debitur dalam menghadapi perubahan kondisi lingkungan, baik yang menyangkut kondisi perekonomian dan kondisi sosial masyarakat serta politik, di mana usaha atau proyek berada.

Kondisi ini juga berkaitan dengan perizinan. Misalnya, untuk usaha mikro, izin tersebut dapat berasal dari kelurahan atau kecamatan, dan sebagainya.

Collateral

Berhubungan dengan jaminan utaman dalam pembiayaan yakni sumber pengembalian kredit dari proyek atau usaha yang dibiayai. Jenis jaminan terbagi menjadi dua yaitu jaminan berwujud dan tidak berwujud. Jaminan berwujud misalnya peralatan, mesin, kendaraan, bangunan, tanah dan sebagainya, sedangkan yang tak berwujud antara lain garansi personal atau perusahaan dan sebagainya. 

By the way, kalau perusahaan Bapak atau Ibu butuh modal kerja dari bank sebesar Rp 50 M- Rp 750 M, saya akan bantu kenalkan ke kawan saya eksekutif bank yg sekarang memang sedang aktif cari proyek/bisnis untuk difunding. Kredit bank bisa digunakan untuk investasi, modal kerja, modal untuk mendanai akuisisi sebuah bisnis, dan juga untuk refinancing hutang lama yang tingkat bunganya lebih besar. Saya welcome untuk membantu bila memang dibutuhkan.

Terima kasih / salam hormat

wingdarmadi@gmail.com





Thursday, August 17, 2017

PT Hariff Daya Tunggal Engineering, Bintang Bisnis ICT dari Bandung



Perjalanan hidup tidaklah linear. Kegagalan dan kesulitan tak perlu disesali berlebihan karena semuanya bisa diselesaikan bila mengerahkan seluruh kesungguhan dan kemampuan. Kesuksesan hanyalah sebuah garis lanjut ketika siapapun mau menekuni bidang yang menjadi  spesialisasinya secara fokus dan terus mengembangkan diri. Prinsip itu tampaknya menjadi senjata andalan bagi Budi Permana dan lima kawannya dalam berwirausaha di bisnis telko, mengibarkan Group Hariff. Mengaplikasikan prinsip tersebut, Budi dkk sanggup memiliki perusahaan telko yang  memperkerjakan 700 karyawan.


Group Hariff (GH) yang asal Bandung ini tak salah bila disebut  sebagai salah satu pemain lokal besar besar di bisnis yang  digeluti. GH memang punya banyak anak usaha namun semuanya  fokus. Tak ada yang keluar dari bisnis intinya, bisnis telko. Gh memproduksi perangkat mekanik untuk menunjang industri infrastruktur telko. Mulai dari pembuatan power system, alat transmisi, pembuatan BTS baik yang mobile maupun fix, produk berbasis WiMax, hingga penyedia jaringan broadband wireless access.


HG menekuni mulai dari pelayanan jasa teknisnya, perencanaan sistem, pabrikasi hingga produk dan  layanan lain yang dikembangkan dengan sistem turnkey project untuk pelaku telko. Pelanggannya hampir seluruh operator seluler di  tanah air. Menarik, bila dulu perusahaan ini dibangun enam sekawan tanpa modal uang, kini sudah punya pabrik dan perkantoran seluas 1,3 ha di Jl Soekarno-Hatta Bandung. Kisaran omset tahunan Hariff Grup sudah ratusan miliar, menampung 700 karyawan tersebar di berbagai cabang  dan unit bisnisnya.






Kehadiran Hariff Group memang menjadi antitesis dari paradgima bahwa para entrepreneur lokal hanya bisa sukses di bisnis-bisnis  yang tak perlu 'putar otak' banyak serta di segmen produk non value added.  Sangat pantas kalau awal tahun 2009 ini Hariff Group menerima penghargaan Rintisan Teknologi dari Presiden RI atas prestasinya dalam melakukan  invensi (penciptaan atau perancangan) teknologi di berbagai bidang  yang digarapnya.


Bila dikilas balik, cikal-bakal Group Hariff dimulai dengan berkumpulnya 6 sekawan --  lima diantarannya jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) -- tahun  1982. Sejak awal mereka ingin mendirikan perusahaan bidang telekomunikasi. "Keenam orang ini pada dasarnya memang tukang ngoprek (suka utak-atik) barang. Tapi kita juga punya mimpi untuk meningkatkan produksi dalam negeri lewat kemampuan anak bangsa,"  jelas Budi Permana, satu dari enam sekawan itu yang sekarang didapok sebagai President Director PT Hariff Daya Tunggal Engineering.


Mereka berenam sebelumnya aktif di Radio 8 EH ITB -- radio  siaran mahasiswa ITB -- yang begitu lulus lalu memencar untuk mencari namun kemudian bertemu dan bersama lagi. "Ada sejarah cukup panjang  sebelumnya, satu sama lain sudah percaya, lalu bertemu lagi bikin usaha,"  ujar Budi Permana yang lulusan Teknik Elektro ITB angkatan '74' ini. Awalnya aktifitas usaha yang didirikan bergerak di proyek telekomunikasi HF, VHF dan UHF. Lalu, tahun 1986, juga sempat membuat perusahaan konsultan telko. Pengalaman selama menjalankan usaha-usaha awal itu rupanya menghasilkan jaringan dan kepercayaan terhadap kemampuan enam sekawan ini di dunia  infrastuktur telko.


Dua tahun kemudian, 1988, mereka mendapatkan proyek besar di  Sangatta, Kutai, Kalimantan Timur. Namun menemui kendala karena belum punya  bendera perusahaan yang bisa dijadikan kendaraan untuk ikut tender proyek. Akhirnya, mereka mengakuisisi perusahaan bidang general trading bernama PT Hariff Tunggal Engineering, milik Ahmad Shukri Bay  yang saat ini menjadi komisarisnya.


Proyek pertama Hariff, mendirikan stasiun bumi di PT Kaltim Prima Coal, Kutai, Kalimantan Timur. Ia teringat, dalam mengerjakan proyek itu pihaknya tidak punya modal uang, hanya berbekal kepercayaan mitra.  Padahal nilai proyeknya Rp 2,3 miliar. Angka yang terbilang untuk  saat itu, apalagi bagi entrepreneur pemula. Mereka mampu menjalankan proyek itu karena kepercayaan pihak  bank. "Kepada bank saya jelaskan bahwa kita punya bisnis dengan prospek seperti ini, kemampuan kita begini. Saya modal dengkul tidak  punya apa-apa. Untungnya pada saat itu pemberian pembiayaan dari  bank bagitu mudah sehingga soal keuangan tidak menjadi  masalah," kenang laki-laki kelahiran Tasik 8 Februari 1954 ini.


Toh demikian, dalam perjalanannya, dua tahun kemudian bisnis mereka kurang mulus. Memang perusahaan itu punya proyek namun secara keseluruhan operasi bisnisnya merugi. Tak heran,  bank juga memasukkannya sebagai perusahaan tak layak kredit. Tak  pelak lagi, Budi ikut pusing tujuh-keliling saat itu, walaupun posisinya bukanlah orang nomor atau dirut sebagaimana saat ini. Sebenarnya,  ditengah perusahaan patungan yang gonjang-ganjing itu bisa saja Budi cabut keluar dan memilih bergabung di perusahaan mapan yang  memang banyak yang membutuhkan tenaga ahli seperti dirinya. Hanya  saja, di benaknya terbayang-bayang nasib 15 karyawan lainnya yang  menggantungkan hidup dari perusahaan itu.


Buramnya kondisi perusahaan tersebut akhirnya justru melecutnya untuk bertahan dan mengembangkan agar lebih maju. Gayung bersambut, mulai tahun 1991 ia didapok untuk mengambil alih nahkoda  perusahaan, menjadi presiden direktur. Ia lalu mencoba menstimulir  timnya untuk mencari peluang-peluang baru agar perusahaan bisa bertahan. Tak  heran, tak lama setelah itu Hariff mulai banyak menggarap proyek  jaringan kabel telepon di Surabaya, Jakarta dan Batam.


Lalu, tahun 1994 saat teknologi telepon seluler mulai muncul, Hariff  juga mulai ikut terjun sebagai penyedia infrastruktur. Ia menawarkan jasanya ke perusahaan-perusahaan operator seluler. Cara ini tak terlalu sulit dilakukan karena sebelumnya rata-rata pemain seluler sudah kenal dan percaya dengan awak Hariff. Di industri seluler, sejak awal produk yang disediakan Hariff ialah power system -- unit alat yang  merupakan bagian dari base transceiver station (BTS). Penemuan  bisnis power system merupakan berkah tersendiri bagi Hariff karena dalam perjalanannya, bisnis itu mampu menjadi tulang punggung.  "Bahkan hingga saat ini produk ini menjadi kontribusi terbesar  perusahaan," Budi jujur mengakuinya.


Tak lama setelah mengeluakan power system, Hariff juga mengembangkan perangkat mobile  BTS. Tak ubahnya BTS, mobile BTS juga sangat dibutuhkan perusahaan  operator seluler untuk menjalan bisnis seluler. Bedanya, Mobile BTS digunakan untuk daerah-daerah yang belum terjangkau. Ia juga bisa berfungsi sebagai alat pemancing sekaligus alat survei jumlah customer.  Misal ada suatu daerah yang belum terjangkau jaringan (belum ada  BTS-nya), maka dipasanglah mobile BTS. Ketika responnya tampak bagus atau jumlah customer sudah banyak baru kemudian dibangun BTS permanen.  "Kalau harus membangun fixed BTS butuh waktu lama. Kalau mesti nunggu BTS fix bisa kalah cepat, pelanggan keduluan direbut operator lain," Budi menjelaskan kenapa mobile BTS banyak dibutuhkan. Yang menarik, di bisnis mobile BTS ini Hariff  merupakan pelopor dan hingga kini jumlah produksinya sudah lebih dari 3  ribu unit.


Pada tahun 2000 GH ingin memperluas bisnisnya di bidang telko sehingga mendirikan anak perusahaan lagi. Budi dkk memimpikan sebanyak mungkin pekerjaan telko di Indonesia dikerjakan perusahaan lokal. Hariff yang sebelumnya lebih banyak bermain di sisi  elektroniknya kemudian juga tertarik ke industri mekanikal-nya. Maka didirikanlah PT Telehouse Engineering  (Telehouse). Telehouse membuat perangkat mekanik untuk menunjang  industri infrastruktur telko, contohnya membuat tower BTS.


"Omset Telehouse tahun kemarin Rp 230 miliar dan bisa membangun hingga 7000 BTS dalam satu tahun," ujar Budi seraya menjelaskan pihaknya punya perwakilan di 32 kota Indonesia untuk membantu  service dan logistik dari bisnis ini. Tak hanya itu, di tahun 2004 juga  mendirikan PT Sarana Inti Persada (SIP) yang bisnisnya menyewakan infrastruktur telko. Maklum, makin banyak perusahaan operator seluler yang tidak ingin membangun sendiri infrastruktur BTS-nya, namun menyewa milik pihak ketiga seperti SIP. Dalam lingkup Group  Hariff, SIP sekaligus juga ditujukan untuk menampung produk-produk Telehouse. Hingga saat ini ada sekitar 110 tower yang telah dibangun  dan disewakan oleh SIP. Baik Telehouse maupun SIP merupakan pilar  penting GH saat ini.


Rupanya kesuksesan demi kesuksesan yang sudah diraih tak membuat punggawa GH puas. Terbukti mereka terus melakukan investasi di  ceruk-ceruk baru bisnis telko. Tahun 2006, contohnya, Hariff masuk mengerjakan proyek WiMax. Budi dkk merasa tertantang ketika  pemerintah menawarkan tender teknologi pita lebar (broadband wireless access/BWA) dengan  memprioritaskan konten lokal. "Apa betul? Saya bergerak di industri  ini sejak tahun 80-an dan tidak pernah ada local content. Local content tidak lebih dari 5%. Pengalaman sebelumnya menunjukkan betapa sulit meyakinkan customer karena sudah minded dengan produk luar.  Padahal kita ini negara customer, negara lain berebut menjual ke  sini," ujarnya dengan nada menggebu-gebu.


Sebab itu, ketika pemerintah mengumumkan tender BWA Budi dkk sangat antusias menyambutnya. Mereka punya keyakinan dengan menggunakan perangkat dalam negeri, perusahaan operator akan mendapatkan harga jauh lebih murah,  bisa menghemat 50%. GH berinvestasi awal Rp 10 miliar di bisnis Wimax. Untuk mewadahi bisnis BWA, manajemen GH mendirikan anak  usaha baru, PT Telemedia Nusantara.


Tahun 2008, GH punya peluang manis untuk mengakuisisi perusahaan yang memiliki  lisensi BWA 3,3 GHz, yakni PT Starcom Solusindo (Starcom). "Itu  kesempatan bagus bagi kami sehingga kami punya radio, punya lisensi  dan frekuensinya. Makanya bisa menjadi operator. Kita bisa  menyediakan internet murah," katanya sumringah. Starcom yang 100% sahamnya diakusisi Group Hariff itu hingga April 2009 akan mengembangkan pasar dan jaringan di 11 region dari target  14 region. "Yang sudah dipasang di Batam, Kalimantan, Bangka, dan Bali. Untuk Surabaya sedang digarap," terang Budi. Selanjutnya manajemen GH berencana menggabungkan (merger) Starcom dengan PT Telemedia Nusantara. Maklum, Telemedia Nusantara punya lisensi ISP sehingga  kalau digabung akan sangat sinergis.


Sekilas perjalanan bisnis GH tampak mulus. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Pada saat krismon 1998 contohnya, GH juga terpukul. Bisnisnya mengkeret. Hanya saja GH bisa menjadikan krisis  ekonomi sebagai peluang. Pada saat itu, tim R&D GH berhasil membuat  suatu perangkat yang fungsinya untuk menggandakan kemampuan transmisi. Menurut Budi, hanya ada 5 perusahaan di dunia yang bisa membuat  perangkat serupa, dan GH bisa menjual hingga ratusan modul. Apalagi harganya mampu bersaing dengan produk impor, karena harganya 80% lebih murah.  "Saat itu untuk mendapatkan alat ini begitu sulit. Transmisi  masih jarang. Umumnya perusahaan menggunakan teknologi microwave yang kapasitasnya hanya 4 MB. Nah alat itu bisa berfungsi sebagai  penggada sehingga kemampuan transmisinya bisa 8 MB," ujarnya.


Yang menarik, saat krismin GH punya stok produk barang itu cukup banyak yang dibiayai dengan harga produksi waktu ikurs dollar masih Rp 2500 sementara dijual dengan harga ketika USD sudah melonjak hingga level Rp 16 ribu. Tak heran, walau omset GH saat itu  turun dari Rp 20 miliar menjadi Rp 5 miliar, tetapi karena semuanya  produk stok dari barang lama sehingga tak perlu cost produksi lagi, maka GH bisa menuai untung. "Itulah yang menyelamatkan perusahaan ini dari bahtera krismon. Kami bisa hidup tanpa ada PHK," kata Budi mengenang. Yang  jelas, setelah krismon, kinerja GH bak anak panah yang dilepaskan dari busur. Melesat. Omset GH tumbuh terus berlipat-lipat tiap  tahunnya dan tahun lalu sudah mencapai Rp 800 M.


"Mensyukuri apa yang diberikan Alloh," Budi yang terus berusaha menjadi entrepreneur spiritual ini menuturkan kunci suksesnya.  Menurutnya, tidak perlu muluk-muluk mencari bisnis lain yang tidak dikuasai. "Kita fokus saja pada bidang yang kita kuasai". Baginya yang  terpenting di binsis infrastruktur telko ini soal kepercayaan pelanggan. Faktor trust. Sebab itu, pekerjaan membina kepercayaan pula yang terus dikembangkan. Kepercayaan sendiri tercipta melalui  pengalaman-pengalaman dalam pelayanan dengan cara terus memberikan solusi-solusi terbaik untuk pelanggan. "Kami punya ujung tombak di seluruh Indonesia sehingga kalau ada masalah bisa melakukan penangan cepat," Budi menceritakan kiatnya


Promosi yang dijalankan GH lebih banyak melalui mulut ke mulut. Selain itu juga melalui personal branding dari para pimpinan GH yang memang sudah dikenal di industri seluler tanah air. Toh  demikian, semua itu ujung-ujungnya tetap harus melalui profesionalisme dalam mengerjakan semua permintaan pelanggan.


Diantara mitra GH ialah Nokia Siemens Network (NSN) yang di  Indonesia banyak membangun infrstruktur jaringan seluler. Hariff sudah bermitra dengan Nokia sejak 2001. NSN banyak bekerjasama dengan Hariff untuk membangun lokasi-lokasi pemancar dan penerima GSM di wilayah di Indonesia, mulai dari kota besar hingga kota kecamatan. Hariff menyediakan perangkat catuan daya yang  diperlukan di lokasi.


Selain itu Nokia Siemens Network, Telkomsel juga termasuk diantara  deretan mitra pelanggan GH. Telkomsel bekerja kerjasama Hariff sudah terjalin sejak Telkomsel berdiri. Hariff banyak bekerjsama dengan Telkomsel terutama untuk menyediakan power system. Ketika Telkomsel ekspansi besar-besaran dalam pembangunan BTS di berbagai daerah, Hariff banyak terlibat. Banyak perusahaan yang menawarkan power system ke Telkomsel, namun siapa yang teknologinya cocok dan harganya sesuai itu yang dipilih,  Selain itu Telkomsel juga bekerjasama dengan untuk pengadaan "combat" mobile  BTS yang difungsikan untuk daerah-daerah yang belum terjangkau sinyal jika ada event tertentu.


Yang jelas, sejauh ini pengalaman kerjasama dengan GH dinilai cukup memuaskan. Hariff memberikan support cukup baik. Ketika dibutuhkan bisa langsung menghandle masalah serta memberikan solusi sesuai kebutuhan. Ia  punya organisasi di berbagai provinsi sehingga kalau ada gangguan pemeliharaan bisa cepat ditangani,. Tenaga ahlinya juga kompeten di bidangnya.



Pemerhati industri telko Gunawan Wibisono menimpali, sepengetahuannya Hariff merupakan perusahaan lokal di bidang pembuatan rectifier yang sangat dibutuhkan para operator telko untuk mensupport sistem catu daya. Ia melihat Hariff cukup berpengalaman dan punya SDM serta organisasi  yang solid. Manajemen Hariff telah mampu menangkap peluang bisnis di  telko seluler yang hampir semuanya dikuasai asing ini secara jeli. "Setahu saya dia satu-satunya pemain lokal yang memproduksi  rectifier," kata Gunawan.


Kebutuhan akan perangkat BWA (dibaca WiMAX) di Indonesia sangat  besar, apalagi sekarang pemerintah mengeluarkan regulasi BWA yang membuat makin kondusif bagi perkembangan bisnis perangkat BWA. Berbicara prospek Hariff, kata Gunawan, sangat tergantung pada strategi yang dijalankan  karena di segmen BWA ada kompetitor seperti TRG dan LEN yang juga  pemain lokal.


Gunawan menyarankan, agar mampu terus eksis, GH mesti terus  menghasilkan produk-produk perangkat telko yang mengikuti perkembangan teknologi. "Setelah WiMAX 16d tentu harus bisa  dilanjutkan atau berevoluasi ke WiMAX 16eatau 16m, dan bila dimungkinkan siap-siap menangkap peluang peengembangan teknologi LTE," pesannya. Juga perlu juga berkolaborasi dengan partner asing yang  kredibel. "Kolaborasi adalah langkah yang efisien dan efektif dalam  mengembangkan bisnis saat ini," Gunawan menyarankan.


Selaku komandan GH Budi sendiri optimis industri telekomunikasi di Indonesia masih terus menarik sehingga GH tetap punya prospek cerah. "Saat Indonesia booming satelit, banyak  perusahaan AS kaya raya. Begitu juga waktu booming seluler. Dan saat ini giliran WiMax. Industri seluler sudah mencapai 120 juta pelanggan dalam 15 tahun terakhir, harapannya industri WiMax juga mengalami  nasib sama, semakin banyak orang yang mengakses internet," Budi  menjelaskan visinya.


Yang pasti pihaknya terus berusaha tidak tertinggal dengan cara terus melakukan inovasi. "Kita selalu berpikir untuk memberi suatu kontribusi untuk bangsa, dan kami tidak ingin jadi follower," prinsip engineer yang suka ngoprek ini. Untuk itu pula kini pihaknya sedang menyiapkan untuk pengembangan bisnis konten yang kini juga makin dilirik kalangan network provider dan operator.  Bahkan Group Hariff kini juga sudah membangun sistem telekomunikasi yang digunakan untuk kepentingan militer dan pertempuran. Selama ini sistem pengendalian telekomunikasi militer selalu dipasok oleh oleh produsen software asing. Hal inilah yang memunculkan keprihatinan para petinggi Hariff untuk membuat solusi untuk sistem militer agar kerahasian negara tidak jatuh ke tangan asing.








Membedah Kinerja Sekar Bumi



Bisnis makanan dan minuman terbukti menjadi sektor paling stabil dibanding sektor bisnis lain. Tak heran bila perusahaan-perusahaan yang berbisnis pada sektor tersebut kinerjanya cenderung lebih terjaga, tidak mudah goyah. Terlebih kalau perusahaan itu bisa mendiversifikasi marketnya hingga tak tergantung pasar domestik. 

Salah satau satu saham perusahaan publik yang layak dicermati, PT Sekar Bumi Tbk (SKBM) yang bisnisnya di bidang pengolahaan hasil laut secara terintegrasi. Perusahaan ini punya prospek bagus karena pasarnya juga kuat di pasar global. Dus, tak semata-mata tergantung pasar Indonesia. Terlebih Sekar Bumi dalam beberapa tahun belakangan juga aktif melakukan ekspansi bisnis dan mendirikan pabrik-pabrik baru. 

Produsen makanan beku ini sekarang juga sedang mempersiapkan untuk membangun pabrik pengolahan makanan beku di lamongan, Jawa timur. Presiden Direktur SKBM Harry Lukminto menjelaskan, nilai investasi pabrik baru ini kurang lebih sama dengan nilai investasi pabrik sebelumnya, sekitar Rp 200 miliar. Catatan saja, belum lama ini perseroan baru merampungkan pembangunan pabrik baru di Cikupa, Tangerang. "Beberapa pabrik mulai kami bangun karena utilisasi pabrik lama sudah mendekati 100%," tutur Harry. 

Di sisi lain, manajemen SKBM mulai melihat adanya peluang pergeseran permintaan makanan beku yang mengarah ke produk SKBM baik di pasar dalam negeri maupun luar negeri. Saat ini ada beberapa lini produksi yang digarap Sekar Bumi melalui pabriknya di Cikupa. Ada yang untuk mengolah sosis dengan bahan baku ikan, ada juga yang untuk divisi makanan olahan SKBM. Lokasi Cikupa dipilih karena dekat dengan Jakarta.

Pasar makanan siap saji Indonesia memang semakin berkembang sehingga perseroan berencana terus ekspansi kapasitas dan menjadikan wilayah Jakarta untuk logistik khusus makanan beku. Sejauh ini, sekitar 85% pendapatan SKBM berasal dari pasar ekspor. Sisa 15% berasal dari penjualan dalam negeri. Per Juni, total penjualan SKBM tercatat Rp 704,18 miliar. Pada tahun buku 2015, perseroan meraih penjualan setahun sebesar Rp 1,36 triliun.

Tahun depan, SKBM akan mengembangkan pangsa pasarnya ke wilayah Afrika. Ini merupakan target pasar baru bagi perseroan. “Kami akan kembangkan ke sana, terutama untuk makanan olahan beku,” ujar Harry. Selain mengembangkan pasar di luar negeri, Sekar Bumi berniat meningkatkan pangsa pasar dalam negerinya menjadi 25% dari total penjualan.

SKBM merupakan perusahaan yang menaungi brand Finna, sejak awal sudah melakukan ekspor. Perusahaan ini sudah mendapatkan penghargaan Primaniyarta empat kali berturut-turut. Salah satu pelanggan besarnya ialah Walmart, raksasa ritel asal Amerika. SKBM telah mendapatkan audit green investment dari Walmart dan meraih the highest rating pada sistem mereka. Selain itu, salah satu pabrik Sekar Bumi juga sudah mendapat rating tertinggi dari The British Retail Consortium (BRC).

Sejauh ini SKBM memiliki tiga pabrik, yakni di Sidoarjo, Lamongan, dan Tangerang. Bulan Juni 2016 ini pabrik baru Sekar Bumi sudah mulai beroperasi. Tak salah bila melihat Sekar Bumi sebagai pemain udang terintegrasi karena perusahaan ini memang memiliki bisnis hulu-hilir, mulai dari pabrik khusus udang, bahan pakan, hingga tambak udang. Perusahaan ini membudidayakan udang vannamei atau whiteleg shrimp. Selain itu ada juga produk seafood seperti ikan, mini wonton, fish ball, fish cake, samosa, dim sum, dll.

Belakangan ini SKBM juga mulai memperkenalkan makan ekspor seperti frozen tempe, frozen petai, frozen lele, frozen unagi atau belut, frozen bumbu pecel, ke Korea dan Middle East. Pada tahun 2017 SKBM berharap bisa mendobelkan bahkan mentriplekan volume penjualan dan di 2018-2019 bisa mencapai 85.000 ton pertahun untuk produksi makanan udang maupun makanan value added (frozen food).

Dalam waktu dekat, SKBM juga akan menggelar rights issue. Perseroan bakal menerbitkan 2,3 miliar saham baru atau setara dengan 71,06% dari modal disetor. Target perolehan dananya sekitar Rp 1,2 triliun. Perseroan rencananya akan menggunakan dana hasil rights issue untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis serta melakukan transaksi akuisisi dan penyertaan modal anak usahanya yang bergerak dalam bidang pembesaran ikan air payau atau tambak udang.



Pengusaha Ini Sukses Bisnis Food Supplier




Dengan modal cekak, dia sukses menjadi pengusaha makanan yang memasok perhotelan dan resto. Dia bahkan menjadi pemain global. Elisabeth Liman Dia entrepreneur yang memulai usaha dengan modal amat terbatas -- tidak mewarisi miliaran rupiah dari orang tua -- dan membangun sendiri bisnisnya tahap demi tahap. Di kalangan masyarakat perhotelan, resto, supermarket, sosok Elisabeth bukanlah nama asing. Demikian pula perusahaan yang dikibarkannya, PT Indoguna Utama. Maklum, rata-rata hotel besar di Indonesia menjalin hubungan dengan Indoguna untuk kebutuhan pasokan daging dan bahan makanan lain seperti keju, seafood, gourmet dan wine. Indoguna terbilang salah satu pemain terbesar di bisnis ini. Di Jakarta saja pelanggannya lebih dari 120 perusahaan (hotel, resto, chain store, maskapai penerbangan) yang mayoritas merupakan nama-nama besar.

Indoguna bahkan punya cabang dan anak usaha di beberapa negara. Di antaranya di Dubai, Hong Kong, Singapura, Australia, Kazakhstan, Taiwan, Amerika Serikat dan Lebanon. Salah satu perusahaan di Australia bahkan sukses mengekspor produk dari Negeri Kanguru ke 28 negara. Tak mengherankan, perusahaan tersebut (Mulwarra Export Pty. Ltd.) mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Australia atas prestasinya di bidang ekspor. Elisabeth kini memperkerjakan lebih dari 1.000 karyawan, tersebar di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Perjalanan bisnis Elisabeth tak bisa dipisahkan dari Makassar. Maklum, dia memang dibesarkan di kota terbesar di Indonesia Timur itu dan di sana pula orang tuanya tinggal. Sejak muda, dia sangat menyukai tantangan dan gampang bosan melakukan hal-hal yang baginya tidak menantang lagi. Dia diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, tapi hanya betah menjalani kuliah setahun. Kemudian pindah ke Fakultas Ekonomi, tetapi juga tidak bertahan lama. Hingga tiga kali ganti jurusan, akhirnya dia menyerah. "Saya merasa tidak ada tantangan dengan pekerjaan kuliah yang monoton seperti itu," ungkapnya.

Jakarta menjadi tempat hijrahnya. "Saya pikir kenapa kok harus terdiam hanya sebatas di Makassar, padahal tantangan di lain tempat begitu luas," kata anak pasangan bukan pengusaha itu. Tak berapa lama tinggal di Ibu Kota, dia merasa tertantang untuk pindah ke luar negeri, New York, guna memperluas cakrawalanya. "Saya pilih New York karena penduduk kota itu lebih welcome dengan pendatang dari Asia, tak seperti kota-kota di Eropa. Saya belajar survive di kota tersebut dengan bekerja di perusahaan food," tutur anak kedua dari empat bersaudara itu. Di kota berjuluk Big Apple tersebut, Elisabeth yang sendirian tanpa keluarga belajar betul tentang pentingnya kegigihan agar bisa bertahan hidup. Dia bekerja dan belajar hidup di Negeri Abang Sam.

Setelah dua tahun di New York, dia mulai berpikiran kembali ke Indonesia. "Saya berpikir kenapa saya tidak mencoba berdiri sendiri, mendirikan usaha di bidang food," ujarnya. Tanpa pikir panjang dan ragu, tepat pada 1982 dia mulai merintis usaha di Jakarta, mendirikan Indoguna. Perusahaan rintisannya itu juga membidangi makanan sesuai dengan pengalaman kerjanya. "Tapi tidak persis seperti yang digeluti perusahaan lama di New York," katanya. Dia menyukai bisnis ini karena memang mencintai makanan.

Bisnis ini dimulai ala kadarnya karena tak ada yang memodali, menyewa ruang kerja di Jl. Gajah Mada, Jakarta Pusat. Elisabeth memulainya dengan ditemani empat karyawan yang direkrutnya. Boro-boro bermimpi menjadi pengusaha besar, awalnya hanya berorientasi agar bisa hidup. Salah satu faktor positifnya, ketika itu ekonomi Indonesia cukup booming dan di Jakarta banyak ekspatriat yang berdatangan, khususnya dari Jepang, Prancis dan Korea. Pasti, walau mereka tinggal di Jakarta, kebutuhan dan selera makan mereka tak berubah. Ceruk ini yang dilihat Elisabeth dan kemudian dia mengimpor bahan makanan, khususnya daging, untuk hotel-hotel tempat para ekspat itu menginap.

Kebetulan, ketika itu di Indonesia belum banyak pemain yang menggarap impor daging dan bahan makanan untuk kalangan ekspat. Belum banyak pebisnis yang punya keahlian di bidang itu. "Kalau ada, hanya 1-2 perusahaan," ungkapnya. Dia mendekati calon pelanggan dari pintu ke pintu, berkenalan dan bergaul dengan para chef di hotel-hotel.

Kebetulan juga, waktu itu Hotel Hilton baru berdiri dan membutuhkan daging impor yang empuk yang kualitasnya lebih baik dari daging sapi yang ada di dalam negeri. Hotel tersebut membutuhkan untuk bahan steak, tepanyaki, dan makanan lain yang khusus ditujukan bagi pelanggan Jepang. "Mulailah di situ saya belajar. Saya diajari pemakainya, yaitu para chef di hotel itu. Saya diajari kalau you bawa ke saya daging seperti ini, nantinya jadinya seperti ini, begini hasilnya. Saya juga disuruh coba masakannya," papar Presdir PT Indoguna Utama ini.

Jadi, dia justru belajar dari para chef. Setelah itu, mereka mulai mengorder walau kecil. Dia pun melayani order tersebut walau nilainya hanya kecil (10 kg), sementara perusahaan yang ada saat itu tak mau melayani kuantitas kecil sehingga cenderung mengabaikan. "Kalau saya, tidak melihat jumlahnya, tetapi kebutuhannya dan apa yang bisa disediakan, lalu akan saya usahakan untuk saya bawakan ke mereka. Makanya, mereka senang dan kemudian percaya," katanya. Dari yang awalnya hanya memberi order sedikit, lama-lama memesan semakin banyak karena setiap kali memesan selalu dilayaninya dengan baik.

Prinsipnya, Elisabeth bekerja sembari belajar. Dia bergaul dan belajar dari chef, apa yang dibutuhkan hotel, lalu berusaha menyediakannya. "Waktu itu memulainya kecil-kecil sekali, lalu pelan-pelan berkembang dan meluas. Dari satu hotel ke hotel lain," ungkapnya. Dia tak malu belajar pada para chef, sekaligus memperluas penjualannya.

Dalam berbisnis, Elisabeth berprinsip mengembangkan bisnis mesti sesuai dengan kebutuhan. Pasarnya berkembang karena kebutuhan kliennya juga berkembang. Biasanya setelah tahu apa kebutuhannya, pihaknya lalu berusaha menyediakan. "Sebenarnya kalau memulai bisnis, harus kembali ke pertanyaan ada market-nya atau nggak. Kalau sudah tahu ada market-nya, barulah kita benahi diri kita sendiri agar bisa memenuhi kebutuhan," katanya.

Bukan hanya berusaha memenuhi apa yang dibutuhkan, tetapi juga memegang komitmen dan jujur dalam memberikan pelayanan. Bila sudah menjanjikan produk dengan kualitas A, yang harus di-deliver pun produk dengan kualitas A. Juga, tidak menjual dengan harga di luar kewajaran. "Dengan kejujuran itu, akhirnya para chef itu percaya kepada kami," ungkapnya. Karena prinsip seperti itu, pelanggan Indoguna dari tahun ke tahun berkembang. Sekarang hampir semua hotel berbintang di Jakarta menjadi pelanggannya. Bahkan lebih dari itu, Indoguna mulai merentangkan sayap, mendirikan cabang di beberapa kota seperti Bali, Yogyakarta dan Surabaya. Malah membuka cabang juga di luar negeri. Kok bisa?

Rupanya para chef yang pernah bekerja di Indonesia dan menjadi pelanggan Indoguna tak melupakannya. Ketika pindah tugas ke negara lain, biasanya mereka menghubungi dia. "Mereka menghubungi saya, ‘Elisabeth kenapa you nggak buka di sini. I need you here’," katanya. Melalui cara itu pula, Indoguna kemudian membuka bisnis sejenis di banyak negara: Hong Kong, Singapura, Dubai, Australia, Kazakhstan, Taiwan, Malaysia, AS dan beberapa negara lain. Biasanya setiap membuka cabang, selalu dimulai dari skala kecil dulu, kemudian diperbesar sesuai dengan kebutuhan.

Yang menarik, penetrasi Indoguna di luar negeri tak sekadar sebagai pelengkap. Di Singapura, misalnya, Indoguna (Singapore) Pte. Ltd. termasuk pemasok besar. Di sana Elisabeth juga punya pabrik dan tempat jagal sendiri untuk memasok kebutuhan pasar Negeri Singa.

Khusus di Jakarta, pada 1992 Elisabeth memindahkan pusat bisnisnya dari Jl. Gajah Mada ke daerah Pondok Bambu, Jakarta Timur. Sejak awal dia memang ingin memiliki kantor yang dekat dengan rumah tinggalnya sehingga energinya tak habis karena memikirkan kemacetan di Ibu Kota. Untuk itu, tahun 1992 dia membangun pabrik, cold storage dan kantor dalam satu lokasi, yang luas totalnya kini 25.000 m2. Di dalamnya terdapat mesin cold storage canggih buatan luar negeri untuk menampung produk-produk Indoguna yang siap dipasok ke ratusan pelanggannya di Jakarta. Yang pasti, dulu perusahannya harus dari pintu ke pintu menawarkan produk ke calon pelanggan, sekarang justru calon pelanggan yang datang dan meminta dicarikan produk ini-itu.

Kini, dari total produk yang dipasarkan Indoguna, 95%-nya membutuhkan pendingin sehingga tidak banyak pemain di Indonesia yang mampu melakukanya. Produk andalannya tetap daging (sapi dan sapi muda). "Di dalam negeri sapi muda tidak dipotong, tetapi kalau di luar negeri, sapi muda justru dipotong dan itu harganya lebih mahal," katanya seraya menjelaskan, pihaknya antara lain mengimpor daging dari Australia, AS dan Selandia Baru.

Tentu saja, itu prestasi yang terbilang langka, apalagi di bisnis ini kebanyakan pemainnya kaum pria. Ditanya tentang apa rahasia suksesnya, Elisabeth hanya menandaskan, "Apa yang saya janjikan, saya lakukan. Mesti ada komitmen." Tak hanya itu. "Karena saya sangat suka dengan bidang ini. Saya mencintai ini. Ini mungkin salah satu kunci suksesnya. Kalau Anda menyukai pekerjaan, Anda tidak perlu bekerja lagi untuk hidup karena seakan-akan hanya mainan dan senang-senang," ungkap wanita yang sejak kecil lebih sering bermain dengan anak lelaki itu. Karena menyukai pekerjaan pula, walau ketika awal-awal memulai bisnis butuh perjuangan ekstra, dia tetap bisa melewatinya.

Dalam menjalankan usaha, Elisabeth tidak berangan-angan harus ini harus itu atau mesti menjadi perusahaan besar. Tidak. "Saya memulai dengan kebutuhan pasar. Besaran bisnis saya tumbuh sesuai dengan kebutuhan pasar. Kalau kebutuhan market bertambah, skala usaha saya juga ditambah, termasuk karyawan," katanya. "Saya membiarkan diri dibesarkan oleh market. Jadi bukan saya mencetak perusahaan ini, tetapi perusahaan yang mencetak saya. Jadi, saya yang menyesuaikan diri dengan kondisi dan kebutuhan."

Bob Sadino, pengusaha pemilik Kemang Food Industry (Kem Chicks) mengakui Elisabeth Liman merupakan sosok wanita pengusaha yang tangguh. "Dia pengusaha yang bukan saja sangat gigih, tetapi memang luar biasa. Tidak banyak perempuan yang bisa melakukannya," kata Bob yang kenal Elisabeth sejak 1980-an. Menurutnya, Elisabeth merupakan pengusaha yang sangat mengerti arti melayani pelanggan sehingga ke mana pun pelanggannya memesan produk, dia akan berusaha memenuhi.

Sementara itu, Arya Abdi, Direktur Operasional PT Indoguna Utama, menggambarkan bosnya sebagai wanita yang sangat aktif. "Aktif sekali. Beliau seperti bukan perempuan. Apa pun yang belau inginkan, selalu berprinsip 'harus bisa, pasti bisa'. Beliau sangat gigih dalam menghadapi setiap masalah dan cepat dalam mengambil tindakan. Dan dalam memimpin dia selalu memacu anak buah supaya bisa menjadi seorang pemimpin," katanya. Arya yang memimpin bisnis Indoguna untuk wilayah Indonesia biasanya melakukan meeting dengan Elisabeth sebulan sekali. "Waktu beliau lebih banyak digunakan untuk mengurusi bisnisnya di banyak negara. Jadi, selalu terbang."

Elisabeth masih akan fokus di bisnis makanan. Ini sesuai dengan positioning perusahaannya sebagai food specialist. Dia tak ingin masuk di bisnis penggemukan sapi, misalnya, karena masih ingin fokus di pemasarannya. Namun, dia punya bisnis resto yang menurutnya hanya sambilan, yakni Angus House yang kini punya 6 gerai (dua di luar negeri). Resto ini awalnya didirikan hanya untuk membantu seorang kawannya, ekspat Jepang yang kontrak kerjanya di salah satu hotel Indonesia habis. Mereka berkongsi membangun bisnis resto, dan ternyata bisnis ini pun berkembang.

Dalam mengembangkan bisnis bersama siapa pun, Elisabeth selalu memegang prinsip: mesti win-win. Ini diberlakukannya baik kepada pelanggan, mitra bisnis maupun karyawannya sendiri. Untuk itu, mengetahui dan berusaha memenuhi kebutuhan orang lain merupakan hal sangat penting. Baginya, semua manusia punya kebutuhan. “Kita harus memperhatikan mereka. Dengan karyawan juga demikian. Kalau enak dan untung diambil sendiri, ya karyawan nggak betah!" katanya.

Dengan menjalankan prinsip itu, tingkat loyalitas karyawan Indoguna pun tinggi. Empat karyawannya yang ikut kerja sejak awal, semua masih bertahan -- kecuali satu orang karena telah meninggal dunia. "We care for them. Saya perlakukan mereka sebagai manusia. Mereka dibayar gaji cukup sesuai dengan kealian mereka. Kalau mereka mau tinggal di sini lama, berarti mereka cukup, kan?" ungkapnya retoris.

Salah satu bentuk kepedulian itu misalnya tampak saat krisis moneter 1998. Ketika itu dia menyuruh pembantu di rumahnya untuk pergi ke kantor Indoguna dan memasak bagi karyawan supaya uang saku karyawan tidak berkurang. Anggaran masak itu diambil dari gaji pribadi Elisabeth. Dengan cara itu, uang makan karyawan utuh. Selain itu, gaji juga dinaikkan supaya kehidupan mereka tak tersendat. "Nggak tahunya setelah krisis selesai, sampai sekarang ransum masih jalan terus," katanya seraya tertawa. Namun, itu tak masalah buat Elisabeth. Dia berprinsip, kalau dirinya baik kepada seseorang, orang lain pun akan memperlakukannya dengan baik.



Sentuhan Midas Andrew Santoso di Bisnis Resto





Hobi makan tak selalu jelek. Buktinya, dari hobi makan ini, Andrew Santoso menjadi wirausaha wan sukses di bisnis restoran. Kini, Andrew memiliki dan mengelola resto Mangkok Putih  yang sudah punya banyak cabang, serta punya  boutique food court di Senayan City bernama Urban Kitchen. Juga mendirikan resto yang happening seperti  LOEWY Gastropub, Meja Kitchen, Pepin &Malloy Hot Dogs, Miura Pintxos Bar & Grill, Miura Pintxos Bar, Embassy, Score, Portico, dan Domain.


Kiprah Andrew di bisnis resto tak lepas dari masa lalunya ketika kuliah di Jurusan Pemasaran Bentley College, Boston, Massachussets, Amerika Serikat. Di sana ia yang gemar makan kerap mengunjungi China town untuk menikmati berbagai menu, khususnya mi. Segala macam bakmi dari Asia, termasuk bakmi Vietnam dan Thailand, disantapnya. Setelah kembali ke Indonesia, ia melihat bakmi hampir seragam. Maka, ia memulai bisnis resto dengan mengembangkan resto Mangkok Putih yang konsepnya menyediakan bakmi dari berbagai negara, terutama Asia. “Yang kami tonjolkan dalam branding bukan bakminya, tapi Mangkok Putih, agar tidak head-to-head dengan merek-merek bakmi lain,” Andrew menjelaskan kiatnya.

Resto Mangkok Putih pertama dibuka di daerah Mendawai, Kebayoran, dengan luas 70 m2. Desain interior Mangkok Putih menganut jenis noddle bar. Ada beberapa bar dalam satu resto yang masing-masing pemasaknya berbeda. Ada bar untuk bakmi goreng, rebus, kukus, dan lain-lain. “Resep pengolahan kebanyakan dari ibu saya. Idenya kami ambil dari buku-buku resep, lalu kami olah agar pas dengan lidah orang Indonesia” kata Andrew seraya menjelaskan, ibunya jago masak. Jenis bakmi yang terkenal di Mangkok Putih antara lain bakmi bebek panggang, bakmi telur, bakmi Thailand, kwetiau, bakmi ijo, dan udon. Selain itu, juga ada menu yang lebih umum, seperti nasi goreng.

Diakui Andrew yang pernah menjadi pramusaji di Boston, Mangkok Putih tak direncanakan berekspansi terlalu kencang dengan pola waralaba karena awalnya memang merupakan bisnis keluarga. Manajemen ditangani Andrew dan adiknya, Anita Santoso. Modal awal Mangkok Putih sepenuhnya dari orang tuanya, sebesar Rp 50 juta untuk gerai pertama pada 2001. Kemudian tiap tahun rata-rata menambah satu gerai baru – lebih luas dan investasinya lebih banyak, Rp 200 juta/gerai. Kini Andrew mengelola 6 cabang Mangkok Putih yang semuanya berlokasi di Jakarta.

Setelah merasa mantap berbisnis resto, Andrew tertarik mengembangkan konsep resto baru hingga kemudian lahirlah Urban Kitchen (UK) di Senayan City lantai 5. Sebelumnya ia melihat, pilihan resto di Jakarta banyak, tapi kadang membingungkan para penikmat untuk memilihnya. “Dengan Urban Kitchen, semua pilihan menjadi jelas karena tiap pengunjung bisa memilih langsung hidangan yang hendak mereka santap,” ujarnya bernada promosi.

Berbeda dari Mangkok Putih yang dimiliki penuh keluarganya, UK didirikan 8 investor, termasuk Andrew. Tujuh investor lainnya merupakan kolega Andrew. UK berkonsep boutique food court. Pihaknya menyewa area seluas 1.500 m2, lalu ditawarkan ke kalangan pemilik resto untuk buka gerai bersama-sama di dalamnya. Andrew mengklaim UK merupakan satu-satunya di Indonesia. UK menawarkan berbagai makanan dengan harga bervariasi, Rp 20-90 ribu.

Desain interior UK terbagi dalam empat konsep, yaitu ethnic Asian, modern European, indoor terrace dengan lokasi outdoor, dan library cafĂ© dengan sofa dan kursi yang cozy serta atmosfer yang nyaman. Sebenarnya, ide membangun UK sudah ada tiga tahun silam, tapi kesiapan konsep, lokasi dan mental memang baru datang belakangan. “Kami harus cari tempat yang tidak hanya luas, tapi pengelola malnya harus satu visi,” ujar Andrew yang melihat Senayan City cocok dengan target pasar UK. “Kami menyewa dalam durasi lima tahun, dengan harga sewa Rp 600 ribu/m2/bulan.”

Untuk pengisi tempat (tenant), pihaknya mencari yang punya ciri khas sehingga bisa mewakili masakan asal negara tertentu. “Saya cobain resto satu per satu, mana yang kira-kira bisa cocok dengan daerah Senayan City, lalu kami datangi satu per satu dan kami tawarkan konsepnya,” kata Andrew. Menurutnya, para tenant tak perlu modal besar. Istilahnya, tinggal bawa alat dapur saja. Bentuk kerja sama dengan tenant adalah kontrak sewa tempat selama lima tahun plus bagi hasil. Masing-masing tenant diberi tempat dengan luas sama, 30 m2.

Kini, berkapasitas 450 tempat duduk, UK menampung 12 gerai resto terkemuka yang menawarkan beragam masakan. Mulai dari masakan Indonesia (Nasi Liwet Keprabon, Mangkok Putih, Woku-Woku dan Savoy), masakan Cina (My Kitchen), masakan Barat (Hot Pepper), masakan Italia (La Scala), masakan Malaysia (Little Penang), masakan Thailand (Sup-Sip), masakan Korea (Kung), sampai masakan Jepang (Sushi Groove). Selain itu, ada tiga bar di dalam UK, yaitu beverage bar, chocolate bar (Chocolate) dan coffe bar (Brew&Co). Masing-masing gerai di UK berkonsep open kitchen yang memungkinkan pengunjung melihat langsung proses pengerjaan makanan yang dipesan.

Linda Krisno, pemilik resto Hot Pepper -- salah satu tenant UK -- mengaku dari awal langsung tertarik melihat rencana Andrew dkk. membuat UK. “Saya yakin akan berhasil,” kata Linda yang juga pemegang waralaba resto Chillie's dari AS. Dalam tiga bulan ini, ia cukup puas dengan kinerja gerai Hot Peppernya. Jangan heran, ia berencana menambah gerai lagi kalau UK buka cabang baru.

Hal senada dikemukakan Theo Widjaja, salah satu pemilik Sushi Groove yang membuka gerai ke-6 di UK. Berhubung sudah mengenal Andrew dkk., Theo pun bersedia ketika ditawari bergabung di UK. “Secara konsep dan prospek kami melihatnya cukup bagus. Konsepnya baru di Indonesia,” ungkap wirausaha resto yang sukses itu.

Andrew yakin, UK akan terus berkembang. Kini pengunjung UK saat hari kerja rata-rata 700 orang/hari dan 1.000-1.200 orang saat akhir pekan. Kebanyakan pengunjungnya kalangan profesional muda saat hari kerja, dan pada waktu akhir pekan kebanyakan keluarga. Ia menargetkan per hari UK dikunjungi 1.500 orang dan mencapai breakeven point dalam tiga tahun. Untuk itu, pihaknya terus menggenjot langkah pemasaran, di antaranya melakukan cobranding dengan penerbit kartu kredit (Citibank dan Bank Mandiri), membuat program acara untuk komunitas ibu-ibu arisan, dan mengadakan gathering. Tentunya, juga terus mengandalkan promosi word of mouth dari jaringan kawan dan mitra bisnisnya. Ke depan, UK mencoba merambah mal-mal lain di Jakarta, dengan harapan tiap tahun tambah satu lokasi.

Urban Kitchen selalu mengambil lokasi yang premium. Misalnya anda bisa berkunjung ke Urban Kitchen Pacific Place. Saat memasuki boutique food court ini, pengunjung disambut lampu neon besar bertuliskan inisial Urban Kitchen yang terlekat di dinding. Urban Kitchen Pacific Place tampil baru. Urban Kitchen Pacific Place saat ini memiliki kapasitas 550 tempat duduk. Untuk kartu transaksi, Urban Kitchen menggunakan sistem kartu dianggap lebih mudah dan higienis dibandingkan harus membayar langsung dengan uang di tiap counter.

Untuk menu makanan, kini Urban Kitchen memiliki dua dapur utama yaitu Waroeng 100 Hari dan Internasional. Kehadiran Waroeng 100 Hari menjadi bentuk perayaan kekayaan dan kelezatan kuliner Indonesia. Berbagai makanan Indonesia populer dijual di Waroeng 100 Hari yang mengusung konsep kuliner temporer. Tak hanya makanan berat, disini juga ada Kios Tjemtjeman yang menyediakan bermacam camilan dan seruputan tradisional. Roti bakar selai lobi-lobi, pisang penyet, ketan susu duren, teh poci pantura, dan wedang uwuh menjadi bagian dari menu Kios Tjemtjeman.

Andrew pun belakangan terus tak berhenti berkreasi dengan mendirikan brand-brand resto baru yang happening. Bersama mitra-mitra bisnisnya, ia juga mendirikan LOEWY Gastropub, Embassy, Score, Portico, dan Domain, Meja Kitchen & Bar, Pepin & Malloy Hot Dogs, Miura Pintxos Grill, dll. Masing-masing mengusung konsep resto yang berbeda. Berbisnis resto tak lepas dari kemampuan membaca tren dan melakukan inovasi, hal itu yang akan terus dipegang oleh Amdrew. "Industri F&B  bergerak dengan cepat. Kami berinovasi agar  sesuai dengan perkembangan tren di Jakarta," tutur Andrew Santoso berprinsip.





Headline

10 reasons why Indian so success in global career and business

Indians have been successful in global careers and businesses for a variety of reasons. Here are 10 factors that contribute to their success...